Wednesday, December 26, 2012

sofyanhendra.com

pembaca setia *tsaaaaaah. silakan buka sofyanhendra.com untuk menyimak tulisan-tulisan terbaru. enjoy.. Selengkapnya...

Sunday, July 18, 2010

rumitnya mencari rumah

sudah lama tak nge-blog tentang pengalaman pribadi.
kali ini, saya pengin berbagi pengalaman mencari (dan membeli) rumah, dengan cara kredit tentunya :)
saya termasuk orang yang cepat mengambil keputusan, meski karenanya, keputusan yang saya ambil kerap tidak akurat hehe. saya memutuskan mencari rumah sekira november 2009. saya hanya 3 hari mencari-cari informasi dari internet.

setelah merasa ada yang cocok, langsung survei ke lokasi. pilihan saya, kala itu, jatuh ke perumahan permata mansion (jangan terkecoh dengan kata mansion ya :D). letaknya di sawangan, depok, jawa barat. meski di depok, letaknya lebih dekat dengan ciputat. dari uin lurus aja ke arah parung. kalau dari kantor saya di daerah kebayoran lama, bisa ditempuh 45 menit dengan sepeda motor (tidak ngebut, tidak terlalu macet, tapi juga tak terlalu lengang).

kala itu, saya pesan tipe 40/114 hook, seharga Rp 187 juta. murah sekali untuk ukuran rumah tinggal. Uang muka 10 persen, plus pajak, provisi bank, asuransi, dll, sekitar Rp 42 juta. itu semua bisa dicicil dalam 12 bulan. sisanya, dengan KPR.

saya sudah survei lokasi. tapi saya tak membandingkan dengan perumahan lain. sehingga, saya anggap oke sajalah, lagipula harganya relatif murah.

pelajaran pertama: kalau beli rumah, jangan mudah jatuh cinta, bandingkan dengan perumahan lain dulu.

bulan kedua, saya datang ke lokasi lagi. saya baru sadar kalau pembatas dengan rumah di sebelahnya hanya dengan satu tembok. sebenarnya ini wajar, banyak perumahan sekarang seperti itu untuk menghemat harga. tapi saya tak suka yang seperti itu. saya mulai bimbang.

pelajaran kedua: perhatikan rumah atau contoh sedetail mungkin.


bulan ketiga hingga kelima, saya kaget rumah yang saya pesan sudah hampir jadi. cepat sekali. saya juga makin gusar, karena di grup facebook perumahan itu (yang anggotanya adalah penghuni dan calon penghuni), mulai banyak mengeluh: mulai dari listrik yang tak juga terpasang, jalan yang tak segera diaspal, hingga cacat bangunan di sana-sini. sementara uang muka terus saya cicil...

bulan keenam, rumah yang saya pesan sudah jadi. ternyata hasil rumahnya jelek sekali. bahkan lebih buruk dari rumah-rumah di kompleks itu yang dibangun sebelumnya. mulai dari pintu dan  daun jendela yang kasar, hingga kualitas dasar bangunan yang memang buruk. dalam hati berpikir, yah, namanya juga harga miring.

pelajaran ketiga, jangan terkecoh dengan harga murah.

lantas, saya memutuskan untuk membatalkan pemesanan. itu artinya, saya harus kehilangan separuh dari uang yang sudah saya setor. sebab, di aturan pemesanan, jika konsumen membatalkan sepihak, separuh uang muka akan hangus. saya kehilangan Rp 9 juta. errrrrrrrrrrrrr. separuh lagi, baru ditransfer 3 bulan sejak pembatalan. dan itu artinya, saya baru mendapatkan sisa uang saya 1 agustus nanti :(

dengan berbekal kesalahan-kesalahan saya tadi, saya bertekad memilih rumah yang lebih baik lagi.
pilihan saya jatuh ke taman serua. letaknya juga di sawangan, tak jauh dari perumahan yang batal saya beli. di taman serua, kualitas bangunan relatif lebih baik. semua yang saya keluhkan di perumahan sebelumnya, bisa diatasi di taman serua.

saya berminat pesan tipe 42/90, seharga 230an juta. tapi yang ada tinggal posisi tusuk sate. saya sih tak percaya dengan feng sui ataupun pantangan tataletak rumah lainnya. tapi, pendapat ayah saya logis. "bukan persoalan kita percaya atau enggak. tapi, karena kebanyakan orang percaya, rumah itu akan sulit dijual lagi. kalaupun bisa, harganya bisa jatuh,". benar juga. tipe 42/90 akhirnya hanya ada sisa di hook. harganya lebih mahal, Rp 270an juta. Akhirnya, dengan nekad, saya memilih tipe di atasnya, tipe 56/112, seharga Rp 312,9 juta.

oh iya, 6 bulan sebelumnya, harga rumah yang saya beli itu Rp 297,9 juta, atau sudah naik sekitar Rp 14 juta. Jadi, karena membatalkan rumah yang saya pesan november 2009 itu, saya tidak hanya kehilangan uang Rp 9 juta, tapi plus potensi rugi Rp 14 juta. Sebab, jika kala itu saya langsung beli rumah yang sekarang ini, harganya lebih murah Rp 14 juta.


tapi sudahlah, jangan diingat-ingat hehe.
rumah tipe 56/112 itu terdiri atas 1 ruang tamu (yang bisa disekat menjadi ruang tamu, ruang keluarga, dan ruang makan) 2 kamar (utama dan biasa), 1 kamar pembantu, 2 kamar mandi+toilet (1 utama dan 1 untuk pembantu), dan dapur. ada sisa tanah juga di belakang, taman depan, serta tempat untuk mobil.

apa yang harus disiapkan untuk membeli rumah?
uang, tentunya, hehe. di taman serua, uang muka minimal 10 persen, bisa dicicil 3 kali (3 bulan). tapi, jika kredit bank lebih kecil dibanding yang diajukan (turun plafon), kita wajib menambah uang muka. dengan harga Rp 312,9 juta, setidaknya harus disiapkan uang Rp 31,2 juta. siapkan juga, uang sekitar 5-6 persen dari kredit yang disetujui oleh bank. 


saya mengajukan kredit Rp 281,7 juta ke bank. saya isi formulir untuk BNI, Bank Bumiputera, Bank Niaga, BTN, dan BRI Syariah. oleh pengembang, saya diajukan ke BNI, Bank Bumiputera, dan BRI Syariah terlebih dahulu.
syarat-syarat KPR hampir semua sama. selain mengisi aplikasi, lampirkan fotocopy KTP, KK, dan pas foto. jika sudah tak lajang, lampirkan pula copy KTP pasangan, pas foto, dan surat nikah. untuk karyawan, syarat lain adalah surat keterangan bekerja dari kantor, slip gaji 3 bulan terakhir, dan copy rekening koran/tabungan 3 bulan terkhir yang digunakan untuk transfer gaji, dan copy NPWP. pertanyaan penting: apakah gaji bisa di-mark up? silakan saja seluruh orang di kantor anda berkomplot untuk bersaksi bahwa gaji anda lebih tinggi dari yang anda terima. tapi, bank akan lebih percaya pada copy rekening tabungan anda :). oh iya, jika ingin membayar dengan joint income pasangan, lampirkan juga dokumen yang sama (slip gaji dll) milik pasangan.

setelah semua syarat terpenuhi, tinggal menunggu telepon konfirmasi dari bank. untuk anda yang kerap menolak nomor telepon tak dikenal, khusus saat sedang mengajukan KPR, angkat saja semua nomor tak dikenal. karena petugas bank tak selalu menelepon dari telepon kantor. jawab telepon dengan tenang. kalau ingin berbohong, berbohonglah dengan baik dan benar :)

saya termasuk yang tak mulus dalam mengajukan kredit. maklum, kredit yang saya ajukan cukup besar untuk orang dengan kemampuan finansial seperti saya. untuk Bank BRI Syariah, langsung ditolak karena pekerjaan. BRI Syariah tak mau menerima aplikasi dari wartawan. sekadar informasi, wartawan -beserta pengacara, jaksa, polisi, tentara- adalah jenis profesi yang dihindari kreditur.

di Bank Bumiputera, kredit saya hanya disetujui Rp 203 juta.
di Bank BNI, kredit saya hanya disetujui Rp 202 juta.

tentu saya kaget. karena itu artinya, saya harus menambah Rp 80an juta lagi untuk uang muka. tentu saya tak sanggup. opsinya, tipe rumah diperkecil. Dengan kredit sebesar itu, saya sebenarnya sudah bisa mendapatkan rumah tipe 40/90. tapi tipe rumah itu sudah tak ada, atau kalaupun ada, indent-nya harus sangat lama. tipe rumah yang lebih kecil sebenarnya juga ada, tapi saya sangat penasaran. saya tidak yakin hanya mendapat kredit sejumlah itu. lantas, saya bertanya ke pihak bank, berapa jumlah gaji yang diakui oleh BNI. ternyata, dari slip gaji maret, april, mei, bank hanya mengakui gaji saya di bulan maret (padahal saya mendapat gaji terbaru mulai mei). di kantor saya, mengenal tunjangan profesi yang ditransfer tiap tengah bulan. oleh BNI, tunjangan itu juga tidak dihitung. akhirnya, saya minta semua itu dihitung. caranya, meminta surat keterangan dari kantor tentang keabsahan gaji terbaru dan tunjangan profesi itu. (sebenarnya, dua item itu sudah tercermin dalam dokumen slip gaji yang sudah saya serahkan, tapi biarlah, dituruti saja, namanya juga tengah berutang).

pelajaran keempat: jangan menyerah begitu saja dengan penilaian bank.

akhirnya, kredit saya disetujui Rp 267,5 juta, selama 18 tahun, dengan bunga 9 persen flat 2 tahun. Itu artinya, saya harus mencicil Rp 2,5 juta per bulan.
dengan kredit itu, saya masih harus menambah uang muka Rp 14 juta lagi. total uang muka yang saya bayar Rp 45,4 juta. sebelum akad kredit, kita harus menyediakan biaya provisi, asuransi, notaris, dll (biasanya 5-6 persen dari nilai kredit). untuk kasus saya,  nilainya Rp 14,8 juta.

oh iya, proses mulai dari mengajukan aplikasi hingga keluar surat keputusan dari bank, rentang waktunya kurang dari 1 bulan saja.


jika sudah ada surat keputusan dari bank, tinggal menentukan jadwal akad kredit. untuk akad kredit, dokumen-dokumen harus diperbarui. mintalah kembali slip gaji terakhir ke kantor. selain itu, copy rekening tabungan juga harus diperbarui.

selamat mencari dan membeli rumah.
seperti kata fenny rose, beli sekarang, harga besok naik hehe. itu memang benar, harga rumah akan naik tiap 3-6 sekali. jadi semakin ditunda, kita semakin rugi.

oh iya, ini dia foto rumah kami: kaca jendelanya ada yang belum dipasang :)

Selengkapnya...

Wednesday, May 19, 2010

Sri Mulyani, si Pembantu Laki-Laki Itu

Pidato Sri Mulyani Indrawati di Ritz Carlton PP, Selasa malam, 18 Mei 2010.
Pidato ditranskrip oleh Ririn Radiawati Kusuma (jurnalis Media Indonesia).
Saya tak ingin berkomentar banyak. Semoga laki-laki itu, yang nanti sore kembali dari Malaysia, mengetahui isi pidato ini tadi malam.
Selamat menyimak.

----
;;
Saya rasanya lebih berat berdiri disini daripada waktu dipanggil pansus Century. Dan saya bisa merasakan itu karena sometimes dari moral dan etikanya jelas berbeda. Dan itu yang membuat saya jarang sekali merasa grogi sekarang menjadi grogi. Saya diajari pak Marsilam untuk memanggil orang tanpa mas atau bapak, karena diangap itu adalah ekspresi egalitarian. Saya susah manggil 'Marsilam', selalu pakai 'pak', dan dia marah. Tapi untuk Rocky saya malam ini saya panggil Rocky (Rocky Gerung dari P2D) yang baik. Terimakasih atas...... (tepuk tangan)
;;

Tapi saya jelas nggak berani manggil Rahmat Toleng dengan Rahmat Tolengtor, kasus. Terimakasih atas introduksi yang sangat generous. Saya sebetulnya agak keberatan diundang malam hari ini untuk dua hal. Pertama karena judulnya adalah memberi kuliah. Dan biasanya kalau memberi kuliah saya harus, paling tidak membaca textbook yang harus saya baca dulu dan kemudian berpikir keras bagaimana menjelaskan.
Dan malam ini tidak ada kuliah di gedung atau di hotel yang begitu bagus tu biasanya kuliah kelas internasional atau spesial biasanya. Hanya untuk eksekutif yang bayar SPP nya mahal. Dan pasti neolib itu (disambut tertawa). Oleh karena itu saya revisi mungkin namanya lebih adalah ekspresi saya untuk berbicara tentang kebijakan publik dan etika publik.
Yang kedua, meskipun tadi mas Rocky menyampaikan, eh salah lagi. Kalau tadi disebutkan mengenai ada dua laki-laki, hati kecil saya tetap saya akan mengatakan sampai hari ini saya adalah pembantu laki-laki itu (tepuk tangan). Dan malam ini saya akan sekaligus menceritakan tentang konsep etika yang saya pahami pada saat saya masih pembantu, secara etika saya tidak boleh untuk mengatakan hal yang buruk kepada siapapun yang saya bantu. Jadi saya mohon maaf kalau agak berbeda dan aspirasinya tidak sesuai dengan amanat pada hari ini.
Tapi saya diminta untuk bicara tentang kebijakan publik dan etika publik. Dan itu adalah suatu topik yang barangkali merupakan suatu pergulatan harian saya, semenjak hari pertama saya bersedia untuk menerima jabatan sebagai menteri di kabinet di Republik Indonesia itu.
Suatu penerimaan jabatan yang saya lakukan dengan penuh kesadaran, dengan segala upaya saya untuk memahami apa itu konsep jabatan publik. Pejabat negara yang pada dalam dirinya, setiap hari adalah melakukan tindakan, membuat pernyataan, membuat keputusan, yang semuanya adalah dimensinya untuk kepentingan publik.
Disitu letak pertama dan sangat sulit bagi orang seperti saya karena saya tidak belajar, seperti anda semua, termasuk siapa tadi yang menjadi MC, tentang filosofi. Namun saya dididik oleh keluarga untuk memahami etika di dalam pemahaman seperti yang saya ketahui. Bahwa sebagai pejabat publik, hari pertama saya harus mampu untuk membuat garis antara apa yang disebut sebagai kepentingan publik dengan kepentingan pribadi saya dan keluarga, atau kelompok.
Dan sebetulnya tidak harus menjadi muridnya Rocky Gerung di filsafat UI untuk pintar mengenai itu. Karena kita belajar selama 30 tahun dibawah rezim presiden Soeharto. Dimana begitu acak hubungan, dan acak-acakan hubungan antara kepentingan publik dan kepentingan pribadi. Dan itu merupakan modal awal saya untuk memahami konsekuensi menjadi pejabat publik yang setiap hari harus membuat kebijakan publik dengan domain saya sebagai makhluk, yang juga punya privacy atau kepentingan pribadi.
Di dalam ranah itulah kemudian dari hari pertama dan sampai lebih dari 5 tahun saya bekerja untuk pemerintahan ini. Topik mengenai apa itu kebijakan publik dan bagaimana kita harus, dari mulai berpikir, merasakan, bersikap, dan membuat keputusan menjadi sangat penting. Tentu saya tidak perlu harus mengulangi, karena itu menyangkut, yang disebut, tujuan konstitusi, yaitu kepentingan masyarakat banyak. Yaitu mencapai kesejahteraan rakyat yang adil dan makmur.
Jadi kebijakan pubik dibuat tujuannya adalah untuk melayani masyarakat, Kebijakan publik dibuat melalui dan oleh kekuasaan. Karena dia dibuat oleh institusi publik yang eksis karena dia merupakan produk dari suatu proses politik dan dia memiliki kekuasaan untuk mengeluarkannya. Disitulah letak bersinggungan, apa yang disebut sebagai ingridient utama dari kebijakan publik, yaitu unsur kekuasaan. Dan kekuasaan itu sangat mudah menggelincirkan kita.
Kekuasaan selalu cenderung untuk corrupt. Tanpa adanya pengendalian dan sistim pengawasan, saya yakin kekuasaan itu pasti corrupt. Itu sudah dikenal oleh kita semua. Namun pada saat anda berdiri sebagai pejabat publik, memiliki kekuasan dan kekuasan itu sudah dipastikan akan membuat kita corrupt, maka pertanyaan 'kalau saya mau menjadi pejabat publik dan tidak ingin corrupt, apa yang harus saya lakukan?'
Oleh karena itu, di dalam proses-proses yang dilalui atau saya lalui, jadi ini lebih saya cerita daripada kuliah. Dari hari pertama, karena begitu khawatirnya, tapi juga pada saat yang sama punya perasaan anxiety untuk menjalankan kekuasaan, namun saya tidak ingin tergelincir kepada korupsi, maka pada hari pertama anda masuk kantor, anda bertanya dulu kepada sistem pengawas internal anda dan staff anda. Apalagi waktu itu jabatan dari Bappenas menjadi Menteri Keuangan. Dan saya sadar sesadar sadarnya bahwa kewenangan dan kekuasaan Kementrian Keuangan atau Menteri Keuangan sungguh sangat besar. Bahkan pada saat saya tidak berpikir corrupt pun orang sudah berpikir ngeres mengenai hal itu.
Bayangkan, seseorang harus mengelola suatu resources yang omsetnya tiap tahun sekitar, mulai dari saya mulai dari 400 triliun sampai sekarang diatas 1000 triliun, itu omset. Total asetnya mendekati 3000 triliun lebih.(batuk2) Saya lihat (ehem!) banyak sekali (ehem lagi) kalau bicara uang terus langsung....(ada air putih langsung datang diiringi ketawa hadirin).
Saya sudah melihat banyak sekali apa yang disebut tata kelola atau governance. pada saat seseorang memegang suatu kewenangan dimana melibatkan uang yang begitu banyak. Tidak mudah mencari orang yang tidak tergiur, apalagi terpeleset, sehingga tergoda bahwa apa yang dia kelola menjadi seoalh-olah menjadi barang atau aset miliknya sendiri.
Dan disitulah hal-hal yang sangat nyata mengenai bagaimana kita harus membuat garis pembatas yang sangat disiplin. Disiplin pada diri kita sendiri dan dalam, bahkan, pikiran kita dan perasaan kita untuk menjalankan tugas itu secara dingin, rasional, dengan penuh perhitungan dan tidak membolehkan perasaan ataupun godaan apapun untuk, bahkan berpikir untuk meng-abusenya.
Barangkali itu istilah yang disebut teknokratis. Tapi saya sih menganggap bahwa juga orang yang katanya berasal dari akademik dan disebut tekhnokrat tapi ternyata 'bau'nya tidak seperti itu. Tingkahnya apalagi lebih-lebih. Jadi saya biasanya tidak mengklasifikasikan berdasarkan label. Tapi berdasarkan genuine product nya dia hasilnya apa, tingkah laku yang esensial.
Nah, di dalam hari-hari dimana kita harus membicarakan kebijakan publik, dan tadi disebutkan bahwa kewenangan begitu besar, menyangkut sebuah atau nilai resources yang begitu besar. Kita mencoba untuk menegakkan rambu-rambu, internal maupun eksternal.
Mungkin contoh untuk internal hari pertama saya bertanya kepada Inspektorat Jenderal saya. "Tolong beri saya list apa yang boleh dan tidak boleh dari seorang menteri." Biasanya mereka bingung, tidak perndah ada menteri yang tanya begitu ke saya bu. Saya menetri boleh semuanya termasuk mecat saya.
Kalau seorang menteri kemudian menanyakan apa yang boleh dan nggak boleh, buat mereka menjadi suatu pertanyaan yang sangat janggal. Untuk kultur birokrat, itu sangat sulit dipahami. Di dalam konteks yang lebih besar dan alasan yang lebih besar adalah dengan rambu-rambu. Kita membuat standart operating procedure, tata cara, tata kelola untuk membuat bagaimana kebijakan dibuat. Bahkan menciptakan sistem check and balance.
Karena kebijakan publik dengan menggunakan elemen kekuasaan, dia sangat mudah untuk memunculkan konflik kepentingan. Saya bisa cerita berhari-hari kepada anda. Banyak contoh dimana produk-produk kebijakan sangat memungkinkan seorang, pada jabatan Menteri Keuangan, mudah tergoda. Dari korupsi kecil hingga korupsi yang besar. Dari korupsi yang sifatnya hilir dan ritel sampai korupsi yang sifatnya upstream dan hulu.
Dan bahkan dengan kewenangan dan kemampuannya dia pun bisa menyembunyikan itu. Karena dengan kewenangan yang besar, dia juga sebetulnya bisa membeli sistem. Dia bisa menciptakan network. Dia bisa menciptakan pengaruh. Dan pengaruh itu bisa menguntungkan bagi dirinya sendiri atau kelompoknya. Godaan itulah yang sebetulnya kita selalu ingin bendung. Karena begitu anda tergelincir pada satu hal, maka tidak akan pernah berhenti.
Namun, meskipun kita mencoba untuk menegakkan aturan, membuat rambu-rambu, dengan menegakkan pengawasan internal dan eksternal, sering bahwa pengawasan itu pun masih bisa dilewati. Disinilah kemudian muncul, apa yang disebut unsur etika. Karena etika menempel dalam diri kita sendiri. Di dalam cara kita melihat apakah sesuatu itu pantas atau tidak pantas, apakah sesuatu itu menghianati atau tidak menghianati kepentingan publik yang harus kita layani. Apakah kita punya keyakinan bahwa kita tidak sedang menghianati kebenaran. Etika itu ada di dalam diri kita.
Dan kemudian kalau kita bicara tentang total, atau di dalam bahasa ekonomi yang keren namanya agregat, setiap kepala kita dijumlahkan menjadi etika yang jumlahnya agregat atau publik, pertanyaannya adalah apakah di dalam domain publik ini setiap etika pribadi kita bisa dijumlahkan dan menghasilkan barang publik yang kita inginkan, yaitu suatu rambu-rambu norma yang mengatur dan memberikan guidance kepada kita.
Saya termasuk yang sungguh sangat merasakan penderitaan selama menjadi menteri. Karena itu tidak terjadi. Waktu saya menjadi menteri, sering saya harus berdiri atau duduk berjam-jam di DPR. Disitu anggota DPR bertanya banyak hal. Kadang-kadang bernada pura-pura sungguh-sungguh. Merek emngkritik begitu keras. Tapi kemudian mereka dengan tenangnya mengatakan 'Ini adalah panggung politik bu.'
Waktu saya dulu masuk menteri keuangan pertama saya masih punya dua Dirjen yang sangat terkenal, Dirjen Pajak dan Dirjen Bea Cukai saya. Mereka sangat powerfull. Karena pengaruhnya, dan respectability karena saya tidak tahu karena kepada angota dewan sangat luar biasa. Dan waktu saya ditanya, mulainya dari...? Segala macem. Setiap keputusan, statemen saya dan yang lain-lain selalu ditanya dengan sangat keras. Saya tadinya cukup naif mengatakan, "Oh ini ongkos demokrasi yang harus dibayar." Dan saya legowo saja dengan tenang menulis pertanyaan-pertanyaan mereka.
Waktu sudah ditulis mereka keluar ruangan, nggak pernah peduli mau dijawab atau tidak. Kemudian saya dinasehati oleh Dirjen saya itu, "Ibu tidak usah dimasukkan ke hati bu. Hal seperti itu hanya satu episod drama saja. " Tapi kemudian itu menimbulkan satu pergolakan batin orang seperti saya. Karena saya kemudian bertanya. Tadi dikaitkan dengan etika publik, kalau orang bisa secara terus menerus berpura-pura, dan media memuat, dan tidak ada satu kelompokpun mengatakan bahwa itu kepura-puraan maka kita bertanya, apalagi? siapa lagi yang akan menjadi guidance? yang mengingatkan kita dengan, apa yang disebut, norma kepantasan. Dan itu sungguh berat. Karena saya terus mengatakan kalau saya menjadi pejabat publik, ongkos untuk menjadi pejabat publik, pertama, kalau saya tidak corrupt, jelas saya legowo nggak ada masalah. Tapi yang kedua saya menjadi khawatir saya akan split personality.
Waktu di dewan saya menjadi personality yang lain, nanti di kantor saya akan menjadi lain lagi, waktu di rumah saya lain lagi. Untung suami dan anak-anak saya tidak pernah bingung yang mana saya waktu itu. Dan itu sesuatu yang sangat sulit untuk seorang seperti saya untuk harus berubah-ubah. Kalau pagi lain nilainya dengan sore, dan sore lain dengan malam. Malam lain lagi dengan tengah malam. Kan itu sesuatu yang sangat sulit untuk diterima. Itu ongkos yang paling mahal bagi seorang pejabat publik yang harus menjalankan dan ingin menjalankan secara konsisten.
Nah, oleh karena itu, didalam konteks inilah kita kan bicara mengenai kebijakan publik, etika publik yang seharusnya menjadi landasan, arahan bagi bagaimana kita memproduksi suatu tindakan, keputusan, yang itu adalah untuk urusan rakyat. Yaitu kesejahteraan rakyat, mengurangi penderitaan mereka, menaikkan suasana atau situasi yang baik di masyarakat, namun di sisi lain kita harus berhadapan dengan konteks kekuasaan dan struktur politik. Dimana buat mereka norma dan etika itu nampaknya bisa tidak hanya double standrart, triple standart.
Dan bahkan kalau kita bicara tentang istilah dan konsep mengenai konflik kepentingan, saya betul-betul terpana. Waktu saya menjadi executive director di IMF, pertama kali saya mengenal apa yang disebut birokrat dari negara maju. HAri pertama saya diminta untuk melihat dan tandatangan mengenai etika sebagai seorang executive director, do dan don'ts. Disitu juga disebutkan mengenai konsep konflik kepentingan. Bagaimana suatu institusi yang memprodusir suatu policy publik, untuk level internasional, mengharuskan setiap elemen, orang yang terlibat di dalam proses politik atau proses kebijakan itu harus menanggalkan konflik kepentingannya. Dan kalau kita ragu kita boleh tanya, apakah kalau saya melakukan ini atau menjabat yang ini apakah masuk dalam domain konflik kepentingan. Dan mereka memberikan counsel untuk kita untuk bisa membuat keputusan yang baik.
Sehingga bekerja di institusi seperti itu menurut saya mudah. Dan kalau sampai anda tergelincir ya kebangetan aja anda. Namun waktu kembali ke Indonesia dan saya dengan pemahaman pengenai konsep konflik kepentingan, saya sering menghadiri suatu rapat membuat suatu kebijakan, dimana kebijakan itu akan berimplikasi kepada anggaran, entah belanja, entah insentif, dan pihak yang ikut duduk dalam proses kebijakan itu adalah pihak yang akan mendapatkan keuntungan itu. Dan tidak ada rasa risih. Hanya untuk menunjukkan yang penting pemerintahan efektif, jalan. Kuenya dibagi ke siapa itu adalah urusan sekunder.
Anda bisa melihat bahwa kalau pejabat itu adalah background nya pengusaha, meskipun yang bersangkutan mengatakan telah meninggalkan seluruh bisnisnya, tapi semua orang tahu bahwa adiknya, kakaknya, anaknya, dan teteh, mamah, aa' semuanya masih run. Dan dengan tenangnya, berbagai kebijakan, bahkan yang membuat saya terpana, kalau dalam hal ini apa disebutnya? kalau dalam bahasa inggris apa disebutnya?i drop my job atau apa..bengong itu.
Kita bingung bahwa ada suatu keputusan dibuat, dan saya banyak catatan pribadi saya di buku saya. Ada keputusan ini, tiba-tiba besok lagi keputusan itu ternyata yang menimport adalah perusahaannya dia.
Nah ini merupakan sesuatu hal yang barangkali tanpa harus mendramatisir yang dikatakan oleh Rocky tadi seolah-olah menjadi the most reason phenomena. Kita semua tahu, itulah penyakit yang terjadi di jaman orde baru. Hanya dulu dibuatnya secara tertutup, tapi sekarang dengan kecanggihan, karena kemampuan dari kekuasaan, dia mengkooptasi decision making process juga. Kelihatannya demokrasi, kelihatannya melalui proses check and balance, tapi di dalam dirinya, unsur mengenai konflik kepentingan dan tanpa etika begitu kental. Etika itu barang yang jarang disebut pak.
Ada suatu saat saya membuat rapat dan rapat ini jelas berhubungan dengan beberapa perusahaan. Kebetulan ada beberapa dari yang kita undang, dia adalah komisaris dari beberapa perusahaan itu. Kami biasa, dan saya mengatakan dengan tenang, bagi yang punya aviliasi dengan apa yang kita diskusikan silahkan keluar dari ruangan. Memang itu adalah tradisi yang coba kita lakukan di kementrian keuangan. Kebetulan mereka adlaah teman-teman saya. Jadi teman-teman saya itu dengan bitter mengatakan, "Mba ani jangan sadis-sadis amat lah kayak gitu. Kalaupun kita disuruh keluar juga diem-diem aja. Nggak usah caranya kayak gitu."
Saya ingin menceritakan cerita seperti ini kepada anda bagaimana ternyata konsep mengenai etika dan konflik kepentingan itu, bisa dikatakan sangat langka di republik ini. Dan kalau kita berusaha untuk menjalankan dan menegakkan, kita dianggap menjadi barang yang aneh. Jadi tadi kalau MC nya menjelaskan bahwa saya ingin menjelaskan bahwa di luar gua itu ada sinar dan dunia yang begitu bagus, di dalam saya dianggap seperti orang yang cerita yang nggak nggak aja. Belum kalau di dalam konteks politik besar, kemudian, wah ini konsep barat pasti 'Lihat saja Sri Mulyani, neolib.'
Jadi saya mungkin akan mengatakan bagaimana ke depan di dalam proses politik. Tentu adalah suatu keresahan buat kita. Karena episod yang terjadi beberapa kali adalah bahwa di dalam ruangan publik, rakyat atau masyarakat yang harusnya menjadi the ultimate shareholder dari kekuasaan. Dia memilih, kepada siapapun CEO di republik ini dan dia juga memilih dari orang-orang yang diminta untuk menjadi pengawas atau check terhadap CEO nya.
Dan proses ini ternyata juga tidak murah dan mudah. Sudah banyak orang yang mengatakan untuk menjadi seorang jabatan eksekutif dari level kabupaten, kota, propinsi, membutuhkan biaya yang luar biasa, apalagi presiden pastinya. Dan biayanya sungguh sangat tidak bisa dibayangkan untuk suatu beban seseorang. Saya menteri keuangan saya biasa mengurusi ratusan triliun bahkan ribuan, tapi saya tidak kaget dengan angka. Tapi saya akan kaget kalau itu menjadi beban personal.
Seseorang akan menjadi kandidat mengeluarkan biaya sebesar itu. Kalkulasi mengenai return of investment saja tidak masuk. Bagaimana anda mengatakan dan waktu saya mengatakan sya lihat struktur gaji pejabat negara sungguh sangat tidak rasional. Dan kita pura-pura tidak boleh menaikkan karena kalau menaikkan kita dianggap mau mensejahterakan diri sebelum mensejahterakan rakyat. Sehingga muncullah anomali yang sangat tidak bisa dijelaskan oleh logika akal sehat, bahkan Rocky bilangnya ada akal miring. Saya mencoba sebagai pejabat negara untuk mengembalikan akal sehat dengan mengatakan strukturnya harus dibenahi lagi. Namun toh tetap tidak bisa menjelaskan suatu proses politik yang begitu sangat mahalnya.
Sehingga memunculkan suatu kebutuhan untuk berkolaborasi dengan sumber finansialnya. Dan disitulah kontrak terjadi. Di tingkat daerah, tidak mungkin itu dilakukan dengan membayar melalui gajinya. Bahkan melalui APBD nya pun tidak mungkin karena size dari APBN nya kadang-kadang tidak sebesar atau mungkin juga lebih sulit. Sehingga yang bisa adalah melalui policy. Policy yang bisa dijual belikan. Dan itu adalah adalah bentuk hasil dari suatu kolaborasi.
pertanyaan untuk kita semua, bagaimana kita menyikapi hal ini didalam konteks bahwa produk dari kebijakan publik, melalui sebuah proses politik yang begitu mahal sudah pasti akan distated dengan struktur yang membentuk awalnya. KArena kebijakan publik adalah hilirnya, hasil akhir. Hulunya yang memegang kekuasaan, lebih hulu lagi adalah prosesnya untuk mendapatkan kekuasaan itu demikian mahal.
Dan itu akan menjadi pertanyaan yang concern untuk sebuah sistem demokrasi. Maka pada saat kita dipilih atau diminta untuk menjadi pembantu atau menjadibagian dari pemerintah, Tentu kita tidak punya ilusi bahwa ruangan politik itu vakum atau hampa dari kepentingan. politik dimana saja pasti tentang kepentingan. Dan kepentingan itu kawin diantara beberapa kelompok untuk mendapatkan kekuasaan itu. Pasti itu perkawinannya adalah pada siapa saja yang menjadi pemenang.
Kalau pada hari ini tadi disebutkan ada yang menanyakan atau menyesalkan atau ada yang menangisi ada yang gelo (jawa:menyesal.red), kenapa kok Sri Mulyani memutuskan untuk mundur dari Menteri Keuangan. Tentu ini adalah suatu kalkulasi dimana saya menganggap bahwa sumbangan saya, atau apapun yang saya putuskan sebagai pejabat publik tidak lagi dikehendaki di dalam sistem politik. Dimana perkawinan kepentingan itu begitu sangat dominan dan nyata. Banyak yang mengatakan itu adalah kartel, saya lebih suka pakai kata kawin, walaupun jenis kelaminnya sama. (ketawa dan tepuktangan)
Karena politik itu lebih banyak lakinya daripada perempuan makanya saya katakan tadi. Hampir semua ketua partai politik laki kecuali satu. Dan di dalam bahwa dimana sistem politik tidak menghendaki lagi atau dalam hal ini tidak memungkinkan etika publik itu bisa dimnculkan, maka untuk orang seperti saya akan menjadi sangat tidak mungkin untuk eksis. Karena pada saat saya menerima tangungjawab untuk menjadi pejabat publik, saya sudah berjanji kepada diri saya sendiri, saya tidak ingin menjadi orang yang akan menghianati dengan berbuat corrupt. Saya tidak mengatakan itu gampang. Sangat painful. Sungguh painful sekali. Dan saya tidak mengatakan bahwa saya tidak pernah mengucurkan atau meneteskan airmata untuk menegakkan prinsip itu. Karena ironinya begitu besar. Sangat besar. Anda memegang kekuasaan begitu besar. Anda bisa, anda mampu, anda bahkan boleh, bahkan diharapkan untuk meng abuse nya oleh sekelompok yang sebetulnya menginginkan itu terjadi agar nyaman dan anda tidak mau. (tepuk tangan) Pada saat yang sama anda tidak selalu di apresiasi. P2D kan baru muncul sesudah saya mundur (ketawa, disini dia terlihat mengusapkan saputangan ke matanya).
Jadi ya terlambat tidak apa-apa, terbiasa. Saya masih bisa menyelamatkan republik ini lah.
Jadi saya tidak tahu tadi, Rocky tidak ngasih tahu saya berapa menit atau berapa jam. Soalnya diatas jam 9 argonya lain lagi nanti. Jadi saya gimana harus menutupnya. Nanti kayaknya nyanyi aja balik terus nanti.
Mungkin saya akan mengatakan bahwa pada bagian akhir kuliah saya ini atau cerita saya ini saya ingin menyampaikan kepada semua kawan-kawan disini. Saya bukan dari partai politik, saya bukan politisi, tapi tidak berarti saya tidak tahu politik. Selama lebih dari 5 tahun saya tahu persis bagaimana proses politik terjadi. Kita punya perasaan yang bergumul atau bergelora atau resah. Keresahan itu memuncak pada saat kita menghadapi realita jangan-jangan banyak orang yang ingin berbuat baik merasa frustasi. Atau mungkin saya akan less dramatic. Banyak orang-orang yang harus dipaksa untuk berkompromi dan sering kita menghibur diri dengan mengatakan kompromi ini perlu untuk kepentingan yang lebih besar. Sebetulnya cerita itu bukan cerita baru, karena saya tahu betul pergumulan para teknokrat jaman Pak Harto, untuk memutuskan stay atau out adalah pada dilema, apakah dengan stay saya bisa membuat kebijakan publik yang lebih baik sehingga menyelamatkan suatu kerusakan yang lebih besar. Atau anda out dan anda disitu akan punya kans untuk berbuat atau tidak, paling tidak resiko getting associated with menjadi less. Personal gain, public loss. If you are stay, dan itu yang saya rasakan 5 tahun, you suddenly feel that everybody is your enemy.
KArena no one yang sangat simpati dan tahu kita pun akan tidak terlalu happy karena kita tetap berada di dalam sistem. Yang tidak sejalan dengan ktia juga jengkel karena kita tidak bisa masuk kelompok yang bisa diajak enak-enakan. Sehingga anda di dalam di sandwich di dua hal itu. Dan itu bukan suatu pengalaman yang mudah. Sehingga kita harus berkolaborasi untuk membuat space yang lebih enak, lebih banyak sehingga kita bisa menemukan kesamaan.
Nah kalau kita ingin kembali kepada topiknya untuk menutup juga, saya rasa forum-forum semacam ini atau saya mengatakan kelompok seperti anda yang duduk pada malam hari ini adalah kelompok kelas menengah. YAng sangat sadar membayar pajak. Membayarnya tentu tidak sukarela, tidak seorang yang patriotik yang mengatakan dia membayar pajak sukarela. Tapi meskipun tidak sukarela, anda sadar bahwa itu adalah suatu kewajiban untuk menjaga republik ini tetap berdaulat. Dan orang seperti anda yang tau membayar pajak adalah kewajiban dan sekaligus hak untuk menagih kepada negara, mengembalikan dalam bentuk sistim politik yang kita inginkan. Maka sebetulnya di tangan orang-orang seperti anda lah republik ini harus dijaga. Sungguh berat, dan saya ditanya atau berkali-kali di banyak forum untuk ditanya, kenapa ibu pergi? Bagaimana reformasi, kan yang dikerjakan semua penting. Apakah ibu tidak melihat Indonesia sebagai tempat untuk pengabdian yang lebih penting dibandingkan bank dunia.
Seolah-olah sepertinya negara ini menjadi tanggungjawab Sri Mulyani. Dan saya keberatan. Dan saya ingin sampaikan di forum ini karena anda juga bertanggungjawab kalau bertama hal yang sama ke saya. Anda semua bertanggungjawab sama seperti saya. Mencintai republik ini dengan banyak sekali pengorbanan sampai saya harus menyampaikan kepada jajaran pajak, jajaran bea cukai, jajaran perbendaharaan, "Jangan pernah putus asa mencintai republik." Saya tahu, sungguh sulit mengurusnya pada masa-masa transisi yang sangat pelik.
Kecintaan itu paling tidak akan terus memelihara suara hati kita. Dan bahkan menjaga etika kita di dalam betindak dan berbuat serta membuat keputusan. Dan saya ingin membagi kepada teman-teman disini, karena terlalu banyak di media seolah-olah ditunjukkan yang terjadi dari aparat di kementrian keuangan yang sudah direformasi masih terjadi kasus seperti Gayus.
Saya ingin memberikan testimoni bahwa banyak sekali aparat yang betul-betul genuinly adalah orang-orang yang dedicated. Mereka yang cinta republik sama seperti anda. Mereka juga kritis, mereka punya nurani, mereka punya harga diri. Dia bekerja pada masing-masing unit, mungkin mereka tidak bersuara karena mereka adalah bagian dari birokrat yang tidak boleh bersuara banyak tapi harus bekerja.
Sebagian kecil adalah kelompok rakus, dan dengan kekuasaan sangat senang untuk meng abuse. Tapi saya katakan sebagian besar adalah orang-orang baik dan terhormat. Saya ingin tolong dibantu, berilah ruang untuk orang-orang ini untuk dikenali oleh anda juga dan oleh masyarakat. Sehingga landscape negara ini tidak hanya didominasi oleh cerita, oleh tokoh, apalagi dipublikasi dengan seolah-oalh menggambarkan bahwa seluruh sistem ini adalah buruk dan runtuh. Selama seminggu ini saya terus melakukan pertemuan dan sekaligus perpisahan dengan jajaran di kementrian keuangan dan saya bisa memberikan, sekali lagi, testimoni bahwa perasaan mereka untuk membuktikan bahwa reform bisa jalan ada disana. Bantu mereka untuk tetap menjaga api itu. Dan jangan kemudian anda disini bicara dengan saya, ya bisa diselamatkan kalau sri mulyani tetap menjadi Menteri keuangan. Saya rasa tidak juga.
Suasana yang kita rasakan pada minggu-minggu yang lalu, bulan-bulan yang lalu, seolah-olah persoalan negara ini disandera oleh satu orang, sri mulyani. Sedemikian pandainya proses politik itu diramu sedemikian sehingga seolah-olah persoalannya menjadi persoalan satu orang. Seseorang yang pada sautu ketika dia harus membuat keputusan yang sungguh tidak mudah, dengan berbagai pergumulan, kejengkelan, kemarahan, kecapekan, kelelahan, namun dia harus tetap membuat kebijakan publik. Dia berusaha, berusaha di setiap pertemuan, mencoba untuk meneliti dirinya sendiri apakah dia punya kepentingan pribadi atau kelompok, dan apakah dia diintervensi atau tidak, apakah dia membuat keputusan karena ada tujuan yang lain. Berhari-hari, berjam-jam dia bertanya, dia minta, dia mengundang orang dan orang-orang ini yang tidak akan segan mengingatkan kepada saya. Meskipun mereka tahu saya menteri, mereka lebih tua dari saya. Orang seperti pak Darmin, siapa yang bisa bilang atau marahin pak marsilam?Wong semua orang dimarahin duluan sama dia.
Mereka ada disana hanya untuk mengingatkan saya berbagai rambu-rambu, berbagai pilihan dan pilihan sudah dibuat. Dan itu dilaporkan, dan itu diaudit dan itu kemudian dirapatkan secara terbuka. Dan itu kemudian dirapatkerjakan di DPR. Bagaimana mungkin itu kemudia 18 bulan kemudian dia seolah-olah menjadi keputusan individu seorang Sri Mulyani. Proses itu berjalan dan etika sunyi. Akal sehat tidak ada. Dan itu memunculkan suatu perasaan apakah pejabat publik yang tugasnya membuat kebijakan publik pada saat dia sudah mengikuti rambu-rambu, dia masih bisa divictimize oleh sebuah proses politik. SAya hanya mengatakan, kalau dulu pergantian rezim orde lama ke orde baru, semua orang di stigma komunis, kalau ini khusus didisain pada era reformasi seorang distigma dengan sri mulyani identik dengan century. Mungkin kejadiannya di satu orang saja, tapi sebetulnya analogi dan kesamaan mengenai suatu penghakiman telah terjadi.
Sebetulnya disitulah letak kita untuk mulai bertanya, apakah proses politik yang didorong, yang dimotivate, yang ditunggangi oleh suatu kepentingan membolehkan seseorang untuk dihakimi, bahkan tanpa pengadilan. Divonis tanpa pengadilan. Itu barangkali adalah suatu episod yang sebetulnya sudah berturut-turut kita memahami konsekuensi sebagai pejabat publik yang tujuannya membuat kebijakan publik, dan berpura-pura seolah-olah ada etika dan norma yang menjadi guidance kita dibenturkan dengan realita-realita politik.
Dan untuk itu, saya hanya ingin mengatakan sebagai penutup, sebagian dari anda mengatakan apakah Sri mulyani kalah, apakah sri mulyani lari? Dan saya yakin banyak yang menyesalkan keputusan saya. Banyak yang menganggap itu adalah suatu loss atau kehilangan. Diantara anda semua yang ada disini, saya ingin mengatakan bahwa saya menang. Saya berhasil. Kemenangan dan keberhasilan saya definisikan menurut saya karena tidak didikte oleh siapapun termasuk mereka yang menginginkan saya tidak disini. (applause)
Saya merasa berhasil dan saya merasa menang karena definisi saya adalah tiga. Selama saya tidak menghianati kebenaran, selama saya tidak mengingkari nurani saya, dan selama saya masih bisa menjaga martabat dan harga diri saya, maka disitu saya menang. Terimakasih
(standing applause)
Selengkapnya...

Thursday, May 13, 2010

sri mulyani

tadi siang, saya baru saja menghadiri pesta perpisahan sri mulyani di rumah dinasnya, jalan widya chandra, jakarta. puluhan wartawan datang dari berbagai macam generasi. banyak wartawan yang tak saya kenal –karena amat tuanya, atau saking mudanya-. saya sendiri, menjadi wartawan ekonomi makro sejak medio 2005 hingga pertengahan 2009. itu artinya, saya termasuk yang turut melaporkan penanganan imbas krisis keuangan dunia 2008. saya juga menulis dan melaporkan proses bail out bank century, kebijakan yang kini membuat sri mulyani terjengkang dan meninggalkan tanah air.

saya tak akan membuat catatan berisi puja-puji terhadap sri mulyani. saya hanya ingin menjelaskan perspektif saya, sebagai wartawan (yang pernah meliput isu-isu) ekonomi makro.

ada yang bilang, wartawan ekonomi makro kurang obyektif dalam memandang sri mulyani, terutama dalam kasus bail out bank century. kami dianggap kurang berimbang dalam sudut pandang, karena terlalu menganggap sri mulyani bersih.

ketika seorang wartawan disinggung keberimbangannya, tentu akan mangkel. rasanya mungkin sama dengan seorang chef yang dikomentari masakannya terlalu asin.

saya, dan kebanyakan dari kami, para wartawan ekonomi makro, bukanlah “pendukung” sri mulyani. silakan baca laporan-laporan kami, karena google tak pernah menyembunyikan catatan. soal kebijakan, kami tak pernah lelah mengkritik. soal utang misalnya, meskipun lsm macam koalisi anti utang itu amburadul sekali datanya, kami tetap mengutip, demi keberimbangan. kami juga tetap kritis untuk isu-isu polesan pemerintah seperti angka kemiskinan dan pengangguran. meski kami sadar penerimaan pajak jauh melejit saat lapangan banteng dipimpin sri mulyani, kami juga kerap dengan sengaja mencari-cari celah buruknya.

tapi soal krisis keuangan 2008 dan bail out century?

krisis keuangan dunia 2008.
selain melakukan sejumlah langkah, kepentingan pemerintah, yang saat itu di bidang ekonomi dipimpin sri mulyani, adalah menenangkan masyarakat. kepentingan media, jujur-jujur saja lah, kebanyakan menampilkan berita-berita bombastis. kepentingan pengamat dan oposisi, mengkritik pemerintah agar tampak kedodoran dalam mengatasi krisis. saya tahu kok, siapa-siapa pengamat dan anggota dpr yang kala itu rajin mengembuskan isu sekian bank mau bangkrut lah, likuiditas bank-bank besar tengah lampu merah lah. muncul pula kabar bahwa pemerintah dan bank indonesia sudah habis-habisan menggerojok duit, yang itu artinya, negara sedang gawat.

ketika kami bertanya ke sri mulyani tentang kebenaran kegawatan ekonomi itu, kala itu, tentu saja ia akan bilang bahwa ekonomi baik-baik saja. dan kami tentunya, tak akan percaya begitu saja. berita-berita saya, kala itu, tak jauh dari kata “terpuruk”, “anjlok”, “limbung”, “panik” dan kata-kata negatif lainnya. hingga suatu saat saya ditelp editor, agar mengurangi kata-kata negatif yang bombastis. berita kepanikan nasabah bank century juga tidak dimuat besar-besar, agar tak menimbulkan persepsi negatif yang tak perlu. “berita bombastis memang membuat koran kita laku. tapi kalau ekonomi terpuruk, pendapatan iklan turun, koran kita juga kena”.

belakangan kita tahu, hembusan isu dari para pengamat dan anggota dpr itu memang benar adanya. kala itu, memang banyak bank yang hampir limbung. saat ekonomi sudah pulih, pemerintah akhirnya mengakui kegawatan ketika itu. bedanya, saat ini, para pengamat dan anggota dpr yang dulu mengembuskan isu-isu negatif, berbalik arah dengan mengatakan tak ada kegawatan di akhir 2008.

saya, bisa paham mengapa sri mulyani berbohong di akhir 2008 dengan mengatakan ekonomi baik-baik saja.
tapi maaf, saya tak bisa paham, mengapa para pengamat dan anggota dpr itu mengingkari hembusan isu yang dulu terucap dari mulut mereka.

bail out bank century.
saya tak ingin berdebat tentang salah-benar kebijakan bail out. saya dari awal hanya tak ingin naif dan pura-pura bodoh dengan menganggap pengungkapan kasus oleh parlemen adalah upaya mencari kebenaran. itu saja.

karena saya menyaksikan, bagaimana kemunafikan itu terjadi dengan penolakan atas perpu jarring pengaman sistem keuangan yang tidak tegas dengan menggunakan diksi “belum bisa menerima”. penolakan tidak tegas karena pemilu belum digelar, dan tak ada yang berani melawan susilo bambang yudhoyono.

laporan keuangan lembaga penjamin simpanan yang memuat jumlah dana talangan ke bank century juga sudah muncul mei 2009. tapi, lagi-lagi, pemilihan presiden belum dimulai. belum ada kejelasan kongsi. agustus 2009 baru dihajar. targetnya tunggal, sri mulyani.

ini bukan soal setuju atau tidak setuju dengan bail out bank century. ini soal bagaimana akal sehat tidak boleh berpura-pura bodoh dengan melihat semua proses ini hanya “demi kebaikan” saja.

saya, juga sebagian dari kami, dianggap kurang berimbang karena dianggap tidak mengenal para politisi dpr. justru, kami lebih mengenal para politisi dpr itu, jauh sebelum mereka menjadi masyhur karena sekarang acap tampil di televisi. kami mengenal bambang soesatyo jauh sebelum ia menjadi selebritis-politisi. nama-nama lain, tak perlu disebut.

justru kami, terutama para wartawan yang baru mengenal sri mulyani saat menjadi pejabat, tak pernah dekat secara personal. kami justru orang yang krap sebal karena sri mulyani yang sangat moody dalam berkomentar. kami juga kerap marah karena sri mulyani selalu menilai media kurang berimbang dalam memberitakan kebijakan-kebijakan pemerintah.

tapi, kami tetap menghargai dan menghormati sri mulyani.
kami menghargai, bukan karena ia selalu ramah kepada kami.
kami menghargai, bukan karena kami setuju dengan semua kebijakan ibu tiga anak ini.


kami menghargai dan menghormati, karena ia punya integritas tinggi (*)
13 mei 2010
Selengkapnya...

Sunday, December 20, 2009

Mengenang Sri Mulyani, Setahun Lalu

Tulisan di bawah ini berkisah tentang pidato Sri Mulyani di acara Investor Summit pada 25 November 2008. Empat hari sebelum acara tahunan itu, ia baru mengambil keputusan penting mem-bail out Bank Century. Saya baru tahu sekarang, ternyata kala itu Sri Mulyani sedang galau. Sehari sebelumnya, 24 November 2008, Sri Mulyani baru tahu kalau CAR (rasio kecukupan modal) Bank Century tiba-tiba merosot dari -2,35 persen menjadi -35 persen. Artinya, dana LPS akan jebol… dan akan bermasalah di kemudian hari. Masalah itu benar terjadi saat ini.

Kala itu, Sri Mulyani sedang galau. Tapi, simak saja pidatonya yang dibingkai dalam tulisan di Jawa Pos, 26 November 2008 ini. Sayang, saya gagal menemukan link arsipnya. Jadi, saya copy ulang saja.

Mimpi Itu Tak Pernah Berakhir
Jawa Pos, 26 November 2008

Investor Summit tahun ini menjadi ”istimewa” karena berlangsung di tengah kelesuan pasar modal. Suasana kemarin berbeda dengan tahun lalu yang menjadi masa emas bagi pelaku pasar. Ini memang pegelaran yang menginginkan agar investor tetap percaya menanamkan uangnya di investasi portofolio.

Meski digelar di tengah kelesuan, acara tetap berlangsung meriah. Seribu lebih pengunjung yang hadir, tetap setia mengikuti acara dari pagi hingga petang. Pengunjung rela berdiri mendengarkan pidato kunci Menkeu Sri Mulyani Indrawati. Diskusi sesi siang bersama Deputi Gubernur BI Hartadi A. Sarwono juga masih dipadati peserta. Ini berbeda dengan tahun lalu, di mana sesi siang selalu sepi pengunjung.

Sejumlah emiten juga masih menyemarakkan acara tahunan ini. Tak kurang dari 20 emiten menyampaikan paparan publik kemarin dan hari ini (26/11). Lebih dari 30 emiten juga membuka stan pameran.

Dalam pidato kuncinya, Menkeu meledek banyaknya peserta Investor Summit kemarin sebagai naluri manusia yang sedang gelisah. “Semua memang sedang pengin bersama-sama,” kata Menkeu disambut tawa pengunjung yang hadir.

Sri Mulyani menyadari suasana batin para investor kini masih tak menentu. ”Saat semua yang ada di sini menikmati gain (keuntungan) di atas 50 persen tahun lalu, kemudian sekarang harus berkurang 50 persen, itu memang sesuatu yang painful,” kata Ani, sapaan Sri Mulyani. Untuk itu, dia meminta investor tetap percaya kepada langkah penyelamatan yang diambil pemerintah.

Menkeu meyakinkan pelaku pasar bahwa pemerintah terus melihat realitas, merespons akurat, serta fokus kepada tanggung jawab. ”Ini bukan suasana mudah, tapi saya yakin, dengan konsentrasi terhadap apa yang dihadapi, saya akan menyampaikan jujur apa yang bisa, telah, dan akan lakukan. Dan saya meminta dukungan.”

Menkeu melanjutkan, “Saya tidak bisa memberikan apa-apa. If you trust me, I will not betrayed your trust. Saya akan mengambil keputusan dengan rasional, sering juga dengan hati yang harus dibeningkan. Buat saya, selama memegang jabatan ini, saya meletakkan seluruh reputasi, harga diri, dan pertaruhan saya,” kata Ani, lalu kembali disambut tepuk tangan pengunjung. Ani juga menjamin bahwa dirinya akan melaksanakan tugas sebagai Menkeu hingga akhir masa jabatan.

Bagi Menkeu, kepercayaan dan kebersamaan sangat dibutuhkan dalam mengatasi krisis. Dia lalu mengingatkan investor saat penutupan bursa tahun lalu. Kala itu, semua investor gembira karena harga saham melonjak tinggi. Usai menutup perdagangan waktu itu, Ani menyanyikan lagu yang dipopulerkan Diana Ross.
”If we hold on together…”.

”Saat muka Bapak Ibu senang, saya masih ingat menyanyikan lagu itu. Artinya, kita tetap harus bersama. Jika kita bisa seperti itu, kita bisa seperti bait berikutnya,” Menkeu lalu menyanyikan baris berikutnya. ”I know our dreams will never die..”. (sof/eri)
Selengkapnya...

Sunday, July 19, 2009

Bom Lagi

17 Juli 2009
Hari ini kita dikejutkan lagi dengan ledakan bom di Ritz Carlton dan JW Mariott, dua hotel favorit para ekspat. Meski kerap terjadi pemboman di tanah air, tetap saja membuat kita terkejut. Lebih kaget lagi kalau anda sudah bersusah payah beli tiket MU, akhirnya harus gigit jari karena mereka batal ke sini.
Sekitar jam 9 pagi, saya mendapat informasi kalau Pak Beye segera ke lokasi pengeboman. Saya pun meluncur ke Mega Kuningan, dengan jasa abang ojek dekat kontrakan saya. Sambil memacu motornya, si abang ojek menyorongkan pisau analisisnya. ”Paling itu Prabowo mas,” ujar abang ojek.

Saya tak ingin banyak menanggapi. Saya lebih awas memperhatikan hape, siapa tahu ada perubahan jadwal dari Pak Beye. Benar saja. Pas di mulut Mega Kuningan, masuk lagi SMS ke hape saya, mengabarkan kalau Pak Beye tak jadi ke lokasi. Pak Beye langsung ngomong di Istana.

Sampai di Istana, ternyata Pak Beye sedang menggelar rapat mendadak. Ada Pak Widodo Menko Polhukam yang sudah datang lebih dulu. Pak Hatta Mensesneg, Pak Sudi Menseskab, dan Pak Nuh Menkominfo juga sudah datang. Pak BHD Kapolri datang belakangan. Pak Djoko Panglima masih di Magelang. Nanti agak siang baru datang.
Sudah hampir jam 11, rapat belum mulai. Tempat konpers dipindah ke luar, pas di lapangan rumput. Mulanya menggunakan latar Istana Merdeka. Eh, black light. Diubah lagi dengan latar belakang Istana Negara. Rapat dimulai sekitar 11.15. Nah, sudah mau jumatan. Menjelang jumat, Bang Andi Jubir mengabarkan konpers baru digelar jam 14, setelah jumatan.

Sehabis salat jumat, saya merapalkan doa paling kilat. Cuma doa pengin selamat dunia akhirat amien saja. Eh, Pak Beye sudah jalan keluar masjid. Saya harus pakai kaus kaki dan sepatu, Pak Beye langsung pakai sandal. Pak Beye salat di baris depan, Saya di baris belakang. Tapi, selesainya tetap lebih cepat Pak Beye. Cepat amat ya doanya Pak?

Sehabis jumatan dan makan siang, saya ngobrol dan becanda sejenak dengan kawan-kawan wartawan. Banyak yang kami obrolkan. Mulai dari perdebatan pemeran Megan Fox di Transformer RoF itu laki-laki atau perempuan, sampai mereka-reka apa yang mau diungkapkan Pak Beye. Sambil, meniru gaya khasnya tentu.

Sampai akhirnya, kami melihat Pak Nuh sudah keluar ruang rapat, menuju lapangan yang akan dipakai konpers. Oh iya, set podiumnya sudah diubah lagi. Kali ini, set latarnya Kantor Presiden. (Buat yang belum tahu bedanya Istana Merdeka, Istana Negara, dan Kantor Presiden, nanti saya bikinkan tulisan khusus. Tapi nanti banget ya, Saya juga belum genap dua minggu liputan di Istana. Masih untung deskripsi di atas tidak keliru. Hehe)

Sampai mana tadi? Pak Nuh. Oh iya Pak Nuh. Dari jauh saya sudah melihat Pak Nuh komat-kamit. Waduh, bisa kebobolan berita ini. Saya bergegas mendekat ke Pak Nuh. Dan sayup-sayup.. “Teve yang live berapa. TV One dan TVRI. SCTV kok enggak live?”. Oh, ternyata Pak Nuh cuma mengecek berapa teve yang live. Lalu, Pak Nuh masuk lagi ke ruang rapat.

Setelah Pak Nuh, Bang Andi mengecek lagi kesiapan kami, terutama teve. Lalu, Pak Djoko datang dengan tiga kepala staf angkatannya. Mereka berempat gagah sekali. Maklum, mereka baru ada acara di Magelang. Jadi masih pakai seragam paling lengkap. Sehabis Pak Djoko datang, Pak Beye akhirnya keluar.
Ternyata, apa yang dipidatokan Pak Beye benar-benar di luar dugaan saya. Pak Beye langsung menyebut aksi bom sebagai teroris. ”Meskipun belum tentu jaringan terorisme yang kita kenal selama ini,”. Pikiran saya langsung ke pisau analisa abang ojek tadi...

Lalu Pak Beye menyebut ancaman kekerasan pasca Pilpres. Di tengah-tengah pidato, Pak Beye bergumam, “foto-foto”, lalu salah satu ajudan mengambil empat lembar foto dari dalam ruang rapat. Pak Beye lalu memamerkan foto-foto itu. Bukan sulap, bukan sihir. Eh, bukan gosip bukan isu. Begitu kata Pak Beye. Itu foto latihan perang-perangan. Sasarannya bukan sebarangan, foto Pak Beye.

Praktis, konpers Pak Beye tentang bom, justru didominasi dengan buka-bukaan tentang ancaman Pemilu. Bahkan, mengutuk pengebom pun dengan cara yang mengagetkan. ”Barangkali, ada di antara kita, yang di waktu yang lalu melakukan kejahatan, membunuh, menghilangkan orang barangkali, dan para pelaku itu masih lolos dari jeratan hukum, kali ini negara tidak boleh membiarkan mereka menjadi drakula, dan penyebar maut di negeri kita.”

Waduh, lalu apa hubungannya dengan bom? Apa benar pisau analisis abang ojek tadi? Sampai akhirnya, di teve, Pak BHD bilang kalau kemungkinan kuat ada indikasi bom bunuh diri. Nah lo. Mana ada orang kecewa jagonya kalah di Pemilu sampai mau ngebom diri? Tim sukses yang kalah, mana mau disuruh ngebom diri? Kali ini, saya yakin seyakin-yakinnya, analisis abang ojek pasti salah...

Semoga Pak BHD bisa cepat bisa mengungkap. Katanya, pengebom sempat menginap. Kalau menginap, pasti susah memasukkan bahan bom. Harus sedikit demi sedikit. Ada yang bilang, paling tidak harus menginap 3 hari untuk bisa memasukkan semua bahan bom. Kalau menginap tiga hari, pasti butuh duit tak sedikit. Membayar tunai untuk menginap tiga hari di Mariott juga tak umum. Karena, depositnya pasti bisa berlipat dibanding tarif tiga malam. Masak menginap di Mariott tak pakai kartu kredit?

Atau, oke lah bayar pakai tunai. Masih ada copy KTP atau Paspor kalau kita menginap di hotel manapun. KTP bisa dipalsu? Bisa didatangi pemalsu KTP, kan polisi juga sudah tahu jaringannya? Jadi, lebih cepat lebih baik lah Pak. Asal jangan lebih cepat mengeruhkan suasana..
Selengkapnya...

Friday, July 10, 2009

Pamer Telepon

Malam itu (9/7), pendopo rumah Pak Beye masih terus didatangi banyak tamu. Maklum. Ada gula, ada semut. Kekuasaan membuat banyak orang menyemut. Eh. Ada rombongan dari organisasi pemuda berinisial KNPI. Mereka pengin mengucap selamat, tapi tak kunjung dapat giliran. Tiba-tiba, salah satu dari mereka minta diwawancara televisi. Dan jadilah. Mungkin kunjungan itu tak penting bagi dia. Yang penting nampang di teve dan menunjukkan kalau sudah mendukung Pak Beye.

Ah, televisi. Masih di malam itu, tiba-tiba Choel Mallarangeng, pentolan Fox Indonesia, mengetok-ngetok pengeras suara di pendopo. Lagaknya seperti teknisi speaker. Tiba-tiba, "Dalam dua menit ke depan, presiden terpilih akan memberi keterangan pers. Breaking news. Teve yang bawa SNG, siapkan dalam dua menit untuk live. Akan ada surprise. Surprise pokoknya. Sangat layak untuk breaking news," kata Choel, dengan suara baritonnya. Kali ini, ia berlagak seperti produser berita televisi.

Satu menit, dua menit, tiga menit, empat menit,.. ah, Pak Beye akhirnya muncul di pendopo. Pak Boed yang baru tiba di Jogja mengekor di belakang, sambil menunduk takzim. Pak Beye tak langsung ngomong. Masih senyum-senyum membingungkan. Lantas, dia menyambar telepon genggamnya, dan...

"Apa kabar Pak Jusuf?"...

(oh, ternyata JK di seberang sana)

"Terima kasih, terima kasih"

(wah, JK mengucap selamat ya)

"Sebagaimana yang kita bicarakan, walaupun dalam suasana kompetisi,tetap kita jalin silaturahmi. Kita beri contoh, lanjutkan pelaksanaan tugas. Kita bertugas untuk langkah selanjutnya ke depan. Tadi saya sampaikan, sidang kabinet paripurna Selasa aktif lagi kerja sampai 20 Oktober. Pak Jusuf, sejarah catat jasa Anda besar sekali, teruskan apa yang menjadi amanah kita berdua. Insya Allah ada jalannya. Negara masih membutuhkan Pak JK, apa pun peran Pak Jusuf nanti. Kami menunggu sesuai dengan pilihan Pak JK. Saya senang Pak JK kalau masih bisa mendarmabaktikan diri untuk negara. Kita bicarakan berdua nanti. Sampai ketemu, salam untuk keluarga"

Wah, ini yang kasih selamat siapa, yang ngomong banyak siapa ya? Seumur-umur, baru kali ini saya menyaksikan orang bertelepon disiarkan live melalui televisi. Kalau direkam lalu disiarkan, sudah biasa. Hah.
Selengkapnya...

Thursday, July 2, 2009

Polesan Amerika

Raden Pardede, sampai berlari kecil di lobi hotel Bali Intercontinental. Tahu Raden kan? Ia Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan, pernah jadi calon (penggembira) Gubernur BI bersama Dirut Mandiri Agus Martowardojo yang akhirnya ditolak parlemen. Kini ia ikut riwa-riwi kampanye Cawapres Boediono.

Raden mengejar Rizal Mallarangeng, konsultan politik dari Fox Indonesia yang bertugas memoles Cawapres Boediono. Ia adik Andi Mallarangeng. Kakaknya Choel Mallarangeng, pentolan Fox Indonesia, lembaga paling berkuasa di republik ini, karena bisa mengatur-atur presiden.

"Cel!", teriak Raden. Ia tak berucap apa-apa selain memanggil Celi, sapaan Rizal. Tapi, tangannya menarik bajunya sendiri. Dalam hati ia pengin bilang, "Ganti kausnya Cel". Ya. Celi memang ingin konpers di depan banyak kamera televisi. Tapi, ia sedang pakai kaus dengan bendera Amerika Serikat yang tersablon jelas.

"Gua ganti dulu ya. Masak kalian tega ambil gambar gua pakai ini," ujar Celi kepada kameraperson televisi. Haha. Ia takut juga disangka terlalu ke Amerika-amerikaan. Maklum, Fox Indonesia banyak mengadopsi kampanye gaya Amerika di kampanye-kampanye SBY dan Boediono.

***
Dengan gaya Amerika, kampanye tak perlu massa besar. Cukup sewa ruangan tertutup berkapasitas 1.000 orang. Peserta kampanye diatur, dipoles. Posternya juga sudah diseragamkan. Kampanye ala itu, cukup mengandalkan media, terutama televisi.

Tak hanya itu, Fox juga menjadi konsultan politik yang mengatur semua tetek bengek kampanye. Tak heran, jika partai-partai pendukung SBY-Boediono mulai tak nyaman dengan cara ini. Bayangkan. Petinggi-petinggi parpol, kini saat kampanye, kerjaannya hanya datang dan dipajang. Untuk ke bandara saja, mereka harus menunggu perintah si konsultan-konsultan itu.....

Eh, ada lagi yang mirip-mirip Amerika. Saat Boediono kampanye, ada lima anggota kepolisian yang didandani pakaian serbahitam, kacamata hitam, lengkap dengan earphone kecil di salah satu telinga. Lagaknya sudah melebihi Paspampres, dan kelihatan sekali pengin mirip Secret Service. "Ah, paling kalau ketemu Paspampres beneran juga mengkeret," kata rekan saya.
Selengkapnya...

Baliberalisme

"Bali adalah contoh sukses bagaimana kita menghadapi dan memanfaatkan globalisasi"
Cawapres Boediono meneriakkan itu dalam kampanyenya di Denpasar, Bali, Minggu (28/6). Ia beralasan, meski banyak orang asing berdatangan, Bali tetap mampu mempetahankan budaya dan tradisi.

Soal mempertahankan tradisi, Bali memang jagonya. Tapi apa benar itu menjadi indikator kesuksesan menghadapi globalisasi? Bagi saya, Bali, justru satu simbol kegagalan globalisasi dalam meninggikan keadilan. Bali juga menjadi contoh telanjang dari neoliberalisme.

Memang, banyak turis asing datang ke Bali. Banyak dolar yang mereka belanjakan di pulau yang indah itu. Kita pun kalau datang ke Bali juga tak ragu menguras isi dompet. Tapi, rakyat Bali hanya mereguk sedikit. Hotel-hotel berbintang, dikuasai asing. Begitu juga tempat hiburan. Rakyat Bali? Kebanyakan hanya menjadi pekerja kelas bawah. Mereka melihat kenikmatan dengan mata telanjang, tapi tak bisa turut mengecapnya. Saat kita membayar ratusan ribu untuk makan, hanya sebagian kecil yang mengalir ke rakyat Bali. Jadi, mana yang disebut sukses?

Tadi siang, saya makan siang di Hotel Bali Intercontinental, ditraktir tim kampanye Boediono. Saya pesan menu "beef rendang". Lidah saya langsung berontak saat mencicip rendang itu. Tak sedap bumbunya. Lalu saya menoleh, dan tahu kalau sang chef adalah seorang bule. Hah, masak rendang saja kok harus pake chef bule!

O iya. Sebelum makan, di lobi, saya cari colokan listrik untuk laptop. Duh, colokannya bukan standar Indonesia...
Selengkapnya...

Sunday, June 21, 2009

Bersama Saya, Indonesia Jauh Lebih Baik*

Insya Allah, 8 Juli nanti saya akan memilih Capres No 3.
Tulisan (berisi pidato imajiner) ini memang pro Capres No 2. Saya sengaja membuat tulisan dengan sudut pandang yang berseberangan dengan pilihan politik saya. Buat pendukung Capres No 1 dan 3, silakan mendebat tulisan ini. Jika argumentasi Anda masih kurang pas, akan tetap saya sanggah:) Tulisan ini dibuat, agar bagi pendukung No 1 dan 3, benar-benar mantap menentukan pilihannya. Tulisan ini mengandaikan Saya adalah SBY.


Bersama Saya, Indonesia Jauh Lebih Baik*

Saudara-Saudara, sebangsa dan setanah air,

Sebagai Capres incumbent, saya mendapatkan serangan bertubi-tubi dari banyak pihak. Banyak hal negatif ditudingkan kepada saya. Memang, saat musim kampanye, isu sensitif banyak diungkap. Mulai dari utang, modal asing, hingga isu yang lebih banyak bersifat jargon dan pelabelan seperti neoliberalisme vs ekonomi kerakyatan. Saya hanya ingin menjelaskan semuanya apa adanya. Serta, mendudukkan masalah pada tempatnya.

Banyak yang menyerang saya dengan isu utang. Memang benar, selama masa kepemimpinan saya, jumlah utang secara nominal lebih besar dibanding pemerintahan sebelumnya. Tapi, perkenankan saya menjelaskannya. Penambahan utang selama pemerintahan saya, bukan berasal dari utang luar negeri. Utang luar negeri yang neto kita, jauh lebih kecil dibandingkan pemerintahan-pemerintahan sebelumnya. Sejak 2004, utang luar negeri yang kita tarik, jauh lebih kecil dibanding yang kita bayarkan. Sehingga, di APBN, utang luar negeri kita negatif. Tahun 2004 negatif Rp 28 triliun, 2005 negatif Rp 10 triliun, 2006 negatif Rp 27 triliun, 2007 negatif Rp Rp 24 triliun, 2008 negatif Rp 11 triliun, dan 2009, Insya Allah negatif Rp 14 triliun.

Jadi, penambahan utang kita lebih banyak dari Surat Berharga Negara (SBN). Sejak 2005, SBN memang menjadi instrumen utama pembiayaan APBN. Sebagian kalangan bertanya, mengapa jumlahnya begitu besar? Bukankah bunganya, yang akan menjadi beban pemerintah, bisa jauh lebih mencekik? Sekali lagi, perkenankanlah saya untuk menjelaskan juga, duduk masalahnya.

Memang, saya akui, jumlah SBN yang kita terbitkan cukup besar. Tapi, pemerintah telah berusaha seefisien mungkin, secermat mungkin, menghitung, semua beban utang yang bisa kita tanggung. Kalau kita lihat, penerbitan SBN kita jauh meningkat pada 2008 dan 2009. Pada 2008 kita menerbitkan neto Rp 85,9 triliun dan 2009 Rp 54,7 triliun. Penerbitan kita cukup besar, karena kita perlu me-refinancing obligasi-obligasi kita. Mungkin kita masih ingat, pada tahun 1998, di masa Pak Habibie, penerbitan obligasi (untuk rekap bank) mencapai Rp 100 triliun. Itu harus kita bayar pada 2008 sekarang. Jadi, kita membutuhkan banyak dana untuk refinancing obligasi kita itu. Kita juga masih ingat, tahun 2000, di era Ibu Mega, kita menerbitkan obligasi yang lebih besar, yakni Rp 150 triliun. Itu ada yang utang jangka pendek. Alhamdulillah kita berhasil menjadwalkan kembali di tahun 2000, untuk dialihkan di 2008 dan 2009, dan kita bayar. Itu beban dari krisis 1997-1998 yang kita tanggung bersama hingga sekarang.
Sebagian kita bayar dengan obligasi, tapi dengan jangka yang lebih panjang, bahkan hingga 30 tahun ke depan. Anda bayangkan, utang Rp 1 juta sekarang, tidak akan ada nilainya pada 30 tahun mendatang. Jadi tidak benar, jika kita dianggap terlalu mengobral penerbitan obligasi negara. Justru, kita mengelolanya dengan lebih baik, dan yang paling penting, transparan.

Saudara-saudara. Ke depan, pembiayaan dari utang memang lebih kita arahkan dari penerbitan Surat Berharga Negara. Karena apa? Karena itu lebih mencerminkan potensi dalam negeri kita. Memang, dana swasta asing juga besar. Tapi masih lebih besar dana-dana masyarakat yang disimpan di bank, asuransi, dan dana pensiun. Itu dana rakyat kita yang dipinjamkan ke negara, kita manfaatkan untuk pembangunan, dan manfaatnya kembali kepada rakyat kita.

Banyak yang bilang, bunga utang melalui obligasi kelewat besar. Tapi nanti dulu. Bunga yang kita bayarkan memang lebih besar dibandingkan utang luar negeri. Tapi biaya yang kita pikul, baik secara ekonomis maupun politis, jauh lebih kecil. Secara politis, kita tidak lagi didikte oleh negara kreditur. Secara ekonomis, biaya utang jauh lebih efisien. Meski bunga lebih tinggi, tapi kita bisa menggunakan dana itu, sesuai dengan prioritas pembangunan kita. Berbeda dengan utang proyek luar negeri. Kita tahu, utang semacam itu, yang dikembangkan di pemerintahan-pemerintahan sebelumnya, mensyaratkan proyek tertentu yang disetujui kreditur. Pemberi pinjaman juga menentukan siapa pelaksana proyeknya, teknologinya, alat-alatnya, serta sumber daya manusianya. Jadi, begitu kita mengutang Rp 100 misalnya, uang itu sudah langsung kembali ke negara kreditur dalam bentuk pembelian produk mereka, menggaji konsultan dari mereka, dan sebagainya. Akibatnya, biaya tidak terkontrol oleh kita, tenaga kerja dari kita tidak cukup besar terserap, dan anak-anak negeri kita tidak bisa mengaplikasikan teknologinya. Alhamdulillah, sejak 2007, utang proyek kita jauh berkurang. Kalaupun utang dari luar negeri, kita lebih memilih utang program, yakni utang yang tidak didasarkan pada proyek tertentu. Sekali lagi, pengelolaan utang kita, jauh lebih efisien, dan jauh lebih transparan.

Saudara-saudara. Ada yang bilang, kita lebih pro asing. Saya tidak habis pikir dengan ungkapan itu. Bahwa kita, sejak jaman mantan presiden Soeharto menganut ekonomi terbuka, sehingga membuat asing leluasa masuk, memang benar. Tapi justru di bawah kepemimpinan saya, segalanya diatur jelas. Ada Daftar Negatif Investasi. Itu daftar yang membatasi setiap pemodal asing dengan porsi yang kita inginkan. Kita yang mengatur. Bukan mereka. Ada sektor-sektor yang bisa dimasuki asing, ada pula yang tidak. Sektor strategis seperti telekomunikasi misalnya, kita batasi hingga 65 persen, tak boleh lebih. Transportasi, kita batasi tak boleh lebih dari 51 persen. Aturannya jelas.

Hal penting lain, yang membuat mengapa kita harus melanjutkan kerja keras kita bersama, adalah, kita harus terus menjamin terlaksananya tatakelola pemerintahan yang baik. Tatakelola itu bukan hanya angan-angan. Ia harus dilaksanakan oleh orang yang berani, tegas, serta bebas dari konflik kepentingan. Reformasi birokrasi telah kita jalankan. Misalnya, kita semua tahu, di tubuh Ditjen Pajak dan Ditjen Bea dan Cukai, dua instansi yang bertugas menjamin penerimaan negara tercapai maksimal, telah terjadi revolusi senyap di sana. Strukturnya dirombak. Sumber daya manusianya dibenahi. Penyalahgunaan wewenang, meski kita tidak menutup mata masih ada bolong di sana-sini, sudah jauh, jauh berkurang. Itu pulalah yang membuat penerimaan negara jauh meningkat dibanding pemerintahan-pemerintahan sebelumnya. Peningkatan penerimaan negara ini, adalah kunci kemandirian bangsa. Omong kosong jika kita ingin membuat bangsa mandiri, tapi aparat-aparatnya tidak dibenahi.

Saudara-saudara. Bangsa ini sudah berada dalam jalur yang tepat untuk bangkit. Memang tak bisa langsung memenuhi keinginan semua kalangan. Tapi fondasi untuk bangkit telah kita bangun. Dan kita, akan melanjutkannya bersama. Semoga Allah merahmati kita semua.
*Pidato Imajiner SBY.
Selengkapnya...

Sunday, January 18, 2009

Korban Jepang

Ini bukan pengalaman moyang saya yang susah makan saat dijajah Jepang. Bukan. Ini kisah saya yang stres harus menembus macet di Jalan Sudirman. Macet? Apa hubungannya dengan Jepang?

---
Sepanjang jalan, saya menyumpahi kepenatan. Pening, dan asam mulai berpencar dari lambung, lapar. Selepas magrib, petang itu, saya berangkat dari kantor pusat Departemen Keuangan, kawasan Lapangan Banteng. Mestinya, cukup 45 menit menuju Kantor pusat Ditjen Pajak, Jalan Gatot Subroto, tujuan saya. Tapi, hampir 2 jam saya dikentuti asap bus kota, mencari celah sempit, berkompetisi dengan motor lain, dan bersaing dengan mobil.

Mengeluhkan kemacetan di Jakarta, hampir selalu berujung percakapan sia-sia. Berbagai macam solusi ditawarkan, tapi macet tak kunjung berkurang. Jalur 3 in 1, menambah koridor busway, hingga memaksa anak sekolah berangkat lebih pagi. Semua percuma. Kenapa? Karena jumlah kendaraan bermotor yang tak pernah surut. Mengapa bisa terjadi? Karena industri otomotif tak ingin penjualannya turun satu persen pun.

Saya tak bisa menyalahkan kaum berpunya yang sanggup membeli mobil. Karena kenyataannya, pemerintah tak sanggup menyediakan transportasi massal yang nyaman dan aman. Adit kawan saya, baru saja dijambret di bus kota. Tas milik Agus, teman saya yang lucu, disilet copet. Sayatannya cukup rapi. Beruntung dia cukup sigap, communicator dan dompetnya selamat.

Di titik ini lah saya merasa menjadi korban Jepang. Saya mengutuki kenapa Soeharto terlalu banyak berutang ke sana. Separo dari utang luar negeri kita yang lima ratusan triliun itu, berasal dari Jepang. Banyak pula dari Bank Pembangunan Asia (ADB), yang saham terbesarnya dipunyai Jepang.

Bunga utang mungkin tak seberapa. Tapi, proyek pembangunan kita, mesti mengabdi kepentingan mereka. Jadi, jangan harap tahun 1970-an silam kita langsung membangun transportasi massal solusi kemacetan.

Semahal apapun biaya memperlebar jalan raya, tetap dilakukan. Biarpun membebaskan tanah untuk membangun jalan tol itu susahnya bukan main, arah investasi tetap ke sana. Membangun jalan raya Itu prioritas. Karena tak mungkin utang Yen digunakan untuk membangun sesuatu yang mematikan investasi Jepang.

Semuanya demi Toyota, Daihatsu, Mitsubishi, Honda, Yamaha, Suzuki, dan kawan-kawannya. General Motor, Mercedes-Benz, Hyundai, dan pabrikan non Jepang memang ikut menikmati. Tapi, berapa sih porsi buat mereka. Jadi, proyek jalan tol harus terus dibangun. Kalau mangkrak, solusi dibahas hingga tingkat presiden. Tapi, membangun transportasi massal? Serahkan saja ke Pemda masing-masing.

Sudahlah, saya pening. Besok juga masih macet lagi. Dan 3,5 tahun tinggal di Jakarta, sudah membuat saya terbiasa. Akhirnya saya sampai ke Kantor Ditjen Pajak. Dengan khidmat saya mendengarkan Darmin Nasution, Dirjen jujur, tambun, dan lucunya mirip boneka beruang Teddy itu. Sampai pada satu kalimat, "... diharapkan yang sudah punya NPWP, mau mengisi SPT-nya dengan benar di bulan Maret nanti."

Itu kata-kata yang acap saya dengar dari mulut Darmin. Tapi malam itu, pikiran saya kembali menewawang jauh. Kenapa pajak punya bulan unik, Maret? Saya baru ingat, kala orde baru, APBN baru dimulai April, bukan Januari seperti sekarang. Kenapa? Karena, Jepang memulai tahun anggarannya April. Halah!

Tiba waktu makan malam. Saya sudah tak berselera makan di situ. Buru-buru, saya pacu Honda Supra X buatan 2005. (*)
Selengkapnya...

Saturday, January 10, 2009

Menjemput Ajal

Ia masih kuat bertahan. Meskipun sudah terendam air hingga tersisa hidung mancungnya untuk menghirup oksigen. Kakinya kokoh mencengkeram jeruji. Kusiram lagi kepalanya, ia berenang sebentar, muncul kembali ke permukaan. Kuat sekali.

***
Kami tinggal di sebuah rumah petak yang lumayan bersih. Tapi tikus-tikus itu memang hanya peduli pada sumber makanan. Siapa bilang tikus tak suka tempat bersih. Dia akan tinggal di mana saja. Bersih, jorok, asal ada suplai logistik yang cukup.

Sialnya, kulkas di rumah tak cukup besar untuk menyimpan semua makanan. Ada satu lemari kecil penyimpan makanan, tapi entah dengan ilmu apa, mungkin kursus turun temurun, tikus itu mampu menembus lemari yang tertutup rapat. Paginya, ayam goreng berkurang satu. Tak hanya makanan basah. Tikus-tikus itu juga kerap menjarah stok mie sedap. Modusnya sangat rapi. Ia membuat lubang kecil di salah satu ujung bungkus plastik. Saat saya kelaparan ingin makan mie sedap, ketika dibuka, tiba-tiba isinya tinggal separuh. Oh iya, tikus itu juga sudah memusnahkan satu sepatu pesta milik Vian. Memang tidak dilalap habis. Tapi dengan dua gigitan kecil saja, sudah membuat siapapun malu memakai sepatu itu di kondangan kampung sekalipun.

Akhirnya kami memutuskan perang total terhadap tikus. Tapi berbulan-bulan hanya jadi wacana. Yang ada hanya diskusi tentang strategi apa yang paling tepat untuk memusnahkan tikus itu. Vian mengusulkan diracun. Saya tidak setuju. Selain matinya lama, setelah tewas, kita tak kan pernah tahu di mana bangkainya. Kalau bangkainya berserakan di atas atap dan di tempat-tempat sulit, itu akan jadi masalah baru. Saya paling tak tahan bau bangkai, dan juga enggan mencari sumber bau anyir itu dan membuangnya. Sampai suatu saat ketika jalan-jalan di ITC, saya melihat racun tikus mati kering. Dalam hati saya berteriak, nah ini dia!. Mati kering artinya tak kan bau bangkai. "Dibohongin tukang jual aja mau, sebelum kering ya jadi bangkai dulu," Nah, kini Vian yang tak setuju, dan mungkin dalam hatinya berbisik, "Ah, oon sekali".

Alternatif lain dengan menggunakan perangkap. Saya menentang. "Itu hanya akan efektif menangkap satu tikus, setelah itu yang lain akan mengambil pelajaran berharga," saya mulai berteori. Lagipula, ketika sudah terperangkap, saya tak membayangkan bagaimana membunuhnya. Begitu dikeluarkan dari perangkap, pasti dengan gesit tikus itu akan lari.

Begitu lah yang terjadi. Kami berdebat berbulan-bulan, tapi tikus-tikus itu beraksi kongkret menjarah apapun yang tersisa di luar. Kerap tempat sampah terguling dan mereka mengacak-acak sampah sisa makanan. Akhirnya kami memutuskan membeli lem tikus. Saya berpikir, kalau sudah lengket, buang saja di tempat sampah, hidup atau mati. Gampang.

Lem tikus pun terpasang, lengkap dengan umpan ikan asin. Belum juga tidur, saya mendengar suara gaduh di dapur. Nah kena, saya pikir. Begitu keluar kamar, ikan asin sudah lenyap, tapi lem tikus itu tak cukup kuat menahan mamalia itu. Gagalnya lem tikus itu telah meruntuhkan moral berburu tikus.

***
Sebulan berselang, kabar tentang banyaknya tikus itu mampir ke telinga Ibu Haji Wawa, orang terkaya di RT, yang sekaligus Ibu kontrakan kami. Dia yang perfeksionis, tak terima juga kalau rumah miliknya menjadi sarang tikus. Dia memberi bantuan kongkret, perangkap tikus. Nah lo, bukannya itu tak efektif jika didasarkan pisau analisisku? "Nanti dicuci bersih perangkapnya kalau sudah ketangkap. Tikus lain tak akan membaui temennya di perangkap itu," kata Ibu kontrakan. Masuk akal pikirku. Lantas, bagaimana membunuhnya? "Masukkan ke air". Ibu kontrakanku jenius.

***
Kami baru memutuskan memerangkap tikus keesokan harinya. Kecapekan dan malas menggoreng ikan asin untuk umpan. Saya mendebat, tak perlu digoreng juga bisa. Tapi sudahlah, akhirnya ditentukan perang terhadap tikus baru dimulai keesokan harinya. Perangkap itu ditaruh begitu saja di dapur. Pagi-pagi, vian teriak-teriak membuyarkan tidurku yang kurang. "Ada siti! siti!". Siti itu sebutan yang biasa dia pakai untuk si tikus. Dan memang, tanpa secuil umpan pun, ada 3 tikus yang tengah panik terperangkap. Bagaimana bisa tanpa umpan? Tak ada waktu berdiskusi. Sekarang bagaimana caranya membunuh dan membuang tikus itu.

Teori Ibu kontrakan pun diterapkan. Di kamar mandi, saya siapkan ember berisi air. Memindahkan perangkap itu ke ember bukan hal mudah. Karena tikus-tikus itu tak takut manusia. Dia mengancam tanganku saat memegang perangkapnya. Akhirnya harus pakai pengait. Dua pulpen souvenir dari BNI pun akhirnya jadi alat memindah perangkap. Bles.. seeert, ternyata embernya kekecilan. Saya ambil ember terbesar yang ada di rumah. Ternyata masih juga tak bisa bikin tenggelam. Masih ada kurang dari setengah sentimeter bagian atas perangkap yang tak terendam air. Dengan pintar tiga tikus itu bergelantungan sehingga moncong hidungnya muncul di permukaan. Kusiram kepalanya berkali-kali, ia berenang sebentar, muncul kembali. Kuat sekali.

Sampai akhirnya ada gerakan tak terduga, satu tikus berhasil menghentak pintu perangkap itu sampai terlepas! Satu tikus kabur. Sial. Saya menjadi ganas. "Barbel.., mana barbel..". Saya ambil barbel seberat 2kg itu saya menaruhnya di atas perangkap. Aman. Saya siram lagi kepalanya biar segera tenggelam dan mati. Tak tega juga saya membuatnya lama menderita. Satu tikus akhirnya jatuh ke dasar perangkap, tapi ekornya masih bergerak, dan... ternyata dia menemukan jalan keluar dari bawah. Seharusnya pintu bawah sudah terkunci. Dia keluar perangkap, saya berteriak panik, tikus itu berenang sampai permukaan ember, dan loncat keluar. Saya bersumpah tak kan kehilangan tikus lagi. Terpaksa tikus yang keluar harus dipukul. Kamar mandi saya tutup. Ambil sapu. Saya coba pukul dengan gagang sapu. Sasaran tak kena, sapu yang patah. Saya benar-benar berubah menjadi sosok yang sadis. Saya ambil pisau, tapi keder juga karena ngeri kalau harus ada darah muncrat. Saya masuk kamar mandi lagi, menimbang situasi. Saya naik ke atas pinggiran bak mandi karena takut tikus itu menyerang kaki. Sejurus kemudian saya melihat, vixal!. Dengan kalap saya ambil cairan mematikan itu, saya guyur ke kepala tikus itu. Tikus itu masih bisa lari, tapi akhirnya mulai lemas, tapi tak juga mati. Saya tak ingin menyiksanya lama-lama, dan bismillaahirrahmaanirrahim. Prak! Prak! Prak! Saya pukul kepalanya tiga kali dengan gagang pengepel lantai. Kali ini tikus itu yang mati, gagang pengepel masih utuh.

***
Masih satu tikus di perangkap yang ditenggelamkan di ember. Saya guyur lagi dengan air. Saya benci kenapa tak punya ember lebih besar sehingga tak butuh waktu lama untuk membunuhnya. Atau, jika perangkapnya lebih kecil, dengan mudah bisa ditenggelamkan. Saya benar-benar putus asa. Akhirnya, saya berkesimpulan kepalanya tak cukup hanya disiram air. Akhirnya saya menyiram dengan wipol, cairan pembersih yang lebih ringan dari vixal. Kenapa bukan vixal? Cairan pembersih porselen itu sudah habis untuk membunuh tikus yang sebelumnya. Karena wipol memang tak terlalu mematikan, tikus itu masih lama bertahan. Dia terus berenang, muncul lagi. Saya siram, berenang lagi, muncul lagi. Begitu terus sampai lebih dari sepuluh menit saya menyiram dengan wipol. Hingga akhirnya, saya melihat pemandangan yang membuat merinding. Tikus itu mulai bergerak tak teratur dan makin panik. Ia yang biasa berenang timbul tenggelam dengan seakan berirama, kini mulai berenang dan timbul dengan cepat. Makin cepat, makin panik, dan, tikus itu tenggelam, tak muncul lagi. Saya baru saja menyaksikan sakaratul maut sang tikus. Pikiran saya melayang ke mana-mana. Membayangkan saya yang tak bisa berenang, tenggelam di laut lepas dengan gerakan-gerakan panik seperti tikus tadi. Saya benar-benar melihat muka tikus itu saat menjemput ajalnya. Tikus itu juga melihat muka saya, saat terakhir ia muncul di permukaan, dan tenggelam.

Besok saya bertekad membeli perangkap yang lebih kecil, agar bisa memasukkannya langsung ke ember tanpa ada udara, biar tak ada kesempatan buatku menyaksikan sakaratul maut sang tikus. Hari ini, seorang manusia penguasa tertinggi atas rantai makanan, telah mengikuti hukum alam dengan membasmi 2 ekor tikus. Mungkin, 1 ekor lagi yang lepas sedang mengorganisasikan teman-temannya, melancarkan aksi balasan. Mungkin.
Selengkapnya...

Thursday, January 8, 2009

Lupakan Musa

Saya tidak mengajak mengingkari Musa utusan Allah. Tapi, tidak menyertakan segala epik para nabi di kitab suci dalam perundingan, diplomasi, dan diskusi tentang konflik di tanah Palestina, adalah cara paling sederhana menuju jalan damai.

Menyertakan kisah Musa, apalagi ditarik ke lebih lampau ke epik Ibrahim, hanya membuat jalan damai menjadi buntu. Itu hanya membuat kita mengikuti alur berpikir Theodor Herzl dan penggagas zionisme lainnya. Itu juga akan mengajak tiga agama monotheis salingberkonflik satu sama lain. Artinya lagi, itu hanya menjadikan Yahudi, Kristen, dan Islam, tiga agama paling berpengaruh di peradaban bumi ini, menjadi bahan tertawaan.

Konflik Palestina tak akan menemui jalan damai jika zionis Israel bersikukuh tanah itu adalah Tanah yang dijanjikan. Konflik juga tak akan berhenti, jika Hamas dan gerakan rakyat Palestina lain menarik garis sejarah Umar Al Faruk Khalifah Islam telah merebut tanah itu dari cengkeraman Romawi, pihak yang juga pernah menghancurkan bangsa Israel dari tanah Palestina.

Artinya, silakan zionis mengimani Tanah yang Dijanjikan. Tapi itu juga bukan alasan membunuh dan mengusir orang yang sudah menempati tanah itu. Tentara Israel harus segera menarik mundur pasukannya.

Jalan damai memang bukan hal yang mudah. Tapi jangan menggunakan sikap pesimis karena konflik sudah terjadi berabad-abad sejak Ibrahim. Melihat konflik Palestina kini, harus dengan kacamata sekarang. Caranya, dengan melihat kedaulatan sebuah negara dengan perspektif tatanan dunia pasca perang dunia I dan II. Tatanan dunia pasca penjajahan barat itu menggunakan kesamaan pola. Yakni, pertama, rakyatnya sendiri yang merebut kemerdekaannya (sangat jarang, Indonesia termasuk yang mengklaim seperti itu). Kedua, memberikan kedaulatan penuh. Ketiga, menjadikannya sebagai negara persemakmuran.

Jadi, TIDAK PERNAH terjadi di tatanan itu, ada penjajah (Inggris) yang memfasilitasi bangsa lain (zionis Israel) untuk menduduki bekas jajahannya (tanah Palestina). Jadi kenapa Inggris memberi jalan zionis untuk menguasai bekas jajahannya, itulah pertanyaan yang harus terus dilontarkan. Apa kepentingan negara-negara barat bekas penjajah itu, dengan memberi jalan zionis mendeklarasikan negara baru Israel setelah perang besar 1948?. Melihat tahun 1948, tentu lebih mudah dibanding melihat jaman Ibrahim, Musa, Yeremiah, Muhammad, dan Umar Al Faruk.

Jadi, pilihannya tinggal dua. Menarik garis di tahun 1948, atau ke horizon setelah perang 1968. Jika menarik garis 1948, itu artinya kita menggugat berdirinya negara Israel. Secara teoritis dan praktik, itu hanya seperti menegakkan benang basah, mustahil. Hal paling mungkin adalah menarik ke garis 1968.

Jika menarik ke garis 1948, negara yang terbayangkan adalah, Palestina merdeka, tanpa Israel. Itu sebenarnya mungkin, karena Hamas setuju tidak akan mengusir bangsa Yahudi yang telanjur berdatangan ke negeri itu, asal Palestina merdeka dan tidak ada negara Israel. Kompensasinya, pengungsi Palestina yang terusir dari negerinya juga kembali. Mungkin kita membayangkan Palestina penuh sesak tanpa sumber daya alam berarti. Tapi itu jauh lebih baik dibandingkan peperangan sampai hari akhir.

Itu adalah gambaran terindah. Palestina merdeka. Meski tak ada negara Israel, toh bangsa Yahudi juga bisa kembali ke Tanah yang Dijanjikan. Yahudi mau berkuasa? Ya menangkan Pemilu. Negeranya tetap Palestina. Tapi Israel tak pernah mau dengan opsi itu. Sudah berdiri negara yang diimpikan moyangnya, tak mungkin mereka lepas begitu saja. Jika pengungsi Palestina berdatangan, mereka juga tak kan jadi mayoritas lagi. Lagipula, agama apapun bisa masuk ke Islam dan Kristen. Sementara, kita tak kan pernah diterima memeluk agama Yahudi. Dengan teori demokrasi yang diagungkan banyak orang, mereka akan kalah.

Terpaksa, kita akui berdirinya negara Israel. Tapi wilayahnya kembali ke sebelum perang 1968. Itu adalah hal yang paling mungkin. Artinya, negara Palestina tak akan sesempit dan terisolir seperti saat ini. Meskipun, nanti akan ada satu ganjalan baru, siapa pemilikYerusalem. Di sini lah benang kusutnya. Israel tak pernah mau menggunakan logika demokrasi.

Palestina merdeka menghendaki Yerusalem merupakan wilayah kekuasaannya, karena mayoritas di sana adalah Islam dan Kristen. Tapi lagi-lagi karena Tanah yang Dijanjikan, Israel terus ingin menjadikan Yerusalem sebagai ibukota negaranya, dibanding TelAviv yang sudah diakui sebagian negara lain.

Jadi, jalan damai memang masih jauh. Tapi simpul-simpul masalahnya sudah jelas, tidak serumit yang dibayangkan jika kita mengingat-ngingat kisah Nabi Musa. Dan jalan mengurai simpul masalah itu adalah dengan berunding dan membuat PBBberdaya. Jika tidak berdaya, sebagaimana di ekonomi ada IMF dan World Bank juga tidak berdaya, butuh tatanan dunia baru yang lebih mencerminkan kondisi kini.

Butuh kekuatan bilateral dan regional untuk menekan agar jalan damai terwujud. Kekuatan lain adalah kemanusiaan. Jika seluruh rakyat dunia bersuara, meskipun pemimpin-pemimpinnya tak mengambil sikap, itu juga amat berguna.

Dan stop mencela-cela agama dan mengatakan tragedi itu tak akan pernah berakhir. Melakukan yang kita bisa, meski kecil, itu lebih baik dibanding sikap skeptis. Jadi, kalau anda bisa mengakses internet ini, anda pasti punya cukup uang untuk mendukung misi Dr. Jose Rizal dkk yang kini melaksanakan misi kemanusiaan di sana. Dukung misi MER-C ke Palestina, ketik MERC PEDULI kirim ke 7505 (donasi Rp 6.600/sms). Anda juga bisa menyalurkan ke lembaga lain
Selengkapnya...

Tuesday, November 25, 2008

Mencari

"Kamu cari apa sih?," tanya temanku.
"Tak tahu," jawabku sambil terus memilah-milah tumpukan jerami itu.
"Apa warnanya? Bentuknya?," cecar temanku.
"Entah" aku makin acuh menjawab. Jerami itu makin berserak.
"Bagaimana bisa menemukan yang dicari, kalau kamu tak tahu?," tanya temanku lagi.
"Aku baru tahu yang kucari, jika sudah menemukannya." Selengkapnya...

Thursday, November 13, 2008

Mencaci Diri

Peristiwa kini adalah akibat yang lalu. Saat hari ini memburuk, pantaskah menyalahkan yang silam? Layakkah menista yang sudah? Tidak. Dan kita mencari beribu macam alasan agar hari ini tetap dianggap baik. Lantas berharap, kebaikan hari ini bisa menggamit kebahagiaan esok.

Tapi, bisa juga iya. Kita mengutuki yang sudah, mencaci yang lawas. Meratapi kini hari sambil bertanya, apa yang terjadi nanti? Ah, kita pun tak tahu kapan harus mati.

Kulit yang sama. Kepala, tubuh, dan jiwa juga tak beda. Tapi kepala ini bisa membanggakan tubuh yang sama belasan tahun lalu. Kepala ini juga bisa mengutuki jiwa yang tak beda beberapa masa yang lalu. Duh, tubuh yang kini pun, bisa dicaci tubuh yang sama satu, dua, tiga, belas, dan puluhan tahun nanti. Selengkapnya...

Sunday, November 9, 2008

Bukan Tentang Amrozi

Tulisan ini bukan tentang Amrozi cs. Tetapi, memang ingin berdiskusi tentang hukuman mati. Apakah seorang terpidana pantas mendapatkan hukuman mati? Menurut saya, negara dan hukum tidak pantas menjatuhkan hukuman mati kepada siapapun, entah dia penjahat perang, teroris, mafia, ataupun pembunuh sadis.

Hukuman mati sudah dikenal sejak ratusan tahun silam. Hukuman ini dibuat dengan filosofi dasar untuk memberikan pembalasan. Juga, untuk memberi efek jera kepada pelaku pembunuhan dan kejahatan massal. Bahkan ada negara yang menhukum mati koruptor, juga pengedar narkoba.

Saya termasuk yang memandang hukuman mati sebagai pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Setiap manusia, punya hak untuk hidup, siapapun, tanpa terkecuali. Penjahat perang, teroris, mafia, dan pembunuh sadis, memang telah merampas HAM. Tetapi menurut saya, juga tidak ada hak bagi negara untuk melakukan pelanggaran HAM yang sama.

Rasa keadilan tidak bisa diwujudkan dengan menghukum mati. Korban terorisme misalnya, memang akan puas jika Amrozi cs dihukum mati. Tetapi itu bukanlah rasa keadilan, tapi tak lebih dari kepuasan ketika dendam terbalaskan. Misalnya, ketika adik kita mati dibunuh, kita akan puas jika pembunuhnya mati. Itu dendam, bukan rasa keadilan. Tipis bedanya.

Rasa keadilan harus diwujudkan dengan menegakkan hukum, tapi tetap menegakkan prinsip HAM di sisi lain dengan konsisten. Hukuman paling berat, menurut saya, adalah penjara seumur hidup. Untuk teroris dan penjahat perang, mungkin bisa ditambah dengan isolasi total dan penghilangan sejumlah hak sebagai warga negara.

Untuk efek jera, hukuman mati tetap tidaklah efektif. Teroris tetap akan bermunculan meski hukuman mati diterapkan. Tentu memberantasnya membutuhkan solusi lain, bukan dengan hukuman mati.

Jadi, hukuman mati harus dihapus. Bukan karena kita membela teroris, penjahat perang, pengedar narkoba, atau koruptor. Tetapi negara harus dibangun atas dasar konsistensi aturan. Jika sepakat menegakkan HAM, hukuman mati harus dihapus. Karena menegakkan keadilan, berbeda dengan membalaskan dendam.
Selengkapnya...

Friday, October 24, 2008

Memanggil Lalu Berpaling

Aku sudah kembali ke Jakarta. Tak ada yang istimewa di Palembang, karena aku tak sempat menjejak di Jembatan Ampera dan menikmati Sungai Musi.

Pembicaraan dengan temanku dan mantan kekasihnya di Palembang, masih berlanjut. Dia berkisah kenapa harus berhenti menjalin kasih dengan gadis itu. "Setiap alur, kisah, mekanisme, atau apa pun, selalu punya "rem tersendiri". Dadaku hampir sesak dengan kata-kata itu.

"Ada kalanya dia menjebol, tapi lantas berhenti setelah menjebol. Ada kalanya ia terdesak, tapi lantas muak, kemudian menjebol saat terus terdesak,". Karibku itu benar-benar bikin aku tersedak.

"Seperti itulah, aku percaya, apa pun itu, melulu menjanjikan batas. Karena itu, yo sumeleh saja menjalani hidup. Aku rindu mantan teman dekatku itu, tapi ada batas, kena auto rejection dari apa yang kujalani hari ini. Tapi gak papa. Hidup memang menawarkan alternatif, yang tak terepresentasi dari kehidupan kita saat ini. Goenawan Mohamad menyebutnya "Sang Antah". Dia selalu memanggil, tapi saat itu pula dia berpaling.."

Kawanku itu tak sedang menasehatiku. Dia bercerita tentang hidupnya sendiri. Tapi ulu hatiku serasa ditusuk, dalam. Otakku, terasa diremas..

Tapi temanku itu mengirim pesan lagi. Pesan yang membangkitkan. Yang membuatku masih ingin menjaga mimpi, meski hanya segenggam. Lantas menggantungnya, dan akan kuraih nanti, entah kapan..

"Hidup itu sederhana. Pasti ada suatu asa yang memanggil, sesuatu yang tak terwakili dalam kehidupan kita saat ini. Biarkan itu mengalir. Jangan anggap sebagai utopia, karena utopia membuat kita lesu. Tapi, ya harus tetap sumeleh. Temanku pernah bertanya, apa manusia itu hanya pasrah dengan takdir Tuhan?; hanya taken for granted?. Kujawab tidak. Sumeleh iya, tapi itu harus diikuti luapan semangat. Bagiku, kita harus hidup "kepasrahan yang aktif". Dengan begitu, hidup pun terus jalan lagi; lengkap dengan luka, juga harapan.. Dengan itu pula kita menyadari, hidup ini punya batas, punya "remnya tersendiri".. Utopia memang tak mewujud secara riil, tapi ia sesungguhnya mewujud di hati: Ia sesuatu yang berharga.."

Kini temanku itu tengah bersiap berkemas. Meninggalkan Jakarta, kembali ke kota kecil impiannya. Ke tempat di mana tak ada lagi yang berpaling..
Selengkapnya...

Thursday, October 23, 2008

Mantan Kekasih..

"Selamat datang di Palembang," itu bunyi sms dari temanku yang, sebenarnya dia tengah di Jakarta. Ya. Aku hari ini memang sedang di Palembang. Ada tugas kantor. "Mainlah ke Jembatan Ampera. Aku sering membayangkan semalaman ada di Jembatan Ampera, memandangi riak Musi yang indah. Menikmati gerak pelan kapal-kapal itu.." tulis karibku tadi.

Kawanku itu memang terkesan dengan Palembang. Dulu, dulu sekali, dia pernah jatuh hati dengan gadis Palembang. Gadis itu pernah berjanji mengajaknya jalan-jalan ke Jembatan Ampera. Janji yang belum pernah terpenuhi sampai mereka berpisah.

"Jembatan itu berdiri kokoh membelah Musi yang juga membelah Palembang menjadi dua; ulu dan ilir". Temanku itu fasih menceritakan Jembatan Ampera, meski dia belum pernah ke sini. Mungkin karena mantan kekasihnya sangat pandai berkisah. Lantas kawanku tadi bercerita tentang gadis itu.

"Ia tinggal di Tegal Binangun, Plaju Darat, sebuah ”desa sepeda”. Disebut desa sepeda, karena tak ada motor di tempat itu"

Kata temanku, mantan kekasihnya selalu antusias bercerita soal Musi dan Ampera. "Ia sering pergi ke Ampera di malam hari, duduk terpekur memandangi Musi. Dari sanalah, dia menetaskan sajak-sajaknya soal cinta."

Hmm, aku selalu iri. Sangat iri dengan teman-teman yang selalu fasih menceritakan mantan kekasihnya. Bercerita dengan lapang, tenang, dan indah..
Selengkapnya...